detikNews
Selasa 06 Agustus 2019, 10:35 WIB

Terbitkan Ijazah Tanpa Izin, Eks Rektor Ini Dijebloskan ke Bui Selama 7 Tahun

Rivki - detikNews
Terbitkan Ijazah Tanpa Izin, Eks Rektor Ini Dijebloskan ke Bui Selama 7 Tahun Matheus (kiri)/ (dok ist)
Jakarta - Tim kejaksaan menangkap mantan rektor Sekolah Tinggi Theologi (STT) Setia, Matheus Mangentang. Kini mantan rektor itu sudah dijebloskan ke penjara.

"Pada hari Jumat, tanggal 2 Agustus 2019, telah dilakukan eksekusi atas nama terpidana Matheus Mangentang berdasarkan putusan MA No 3319k/Pid.Sus/2018," ucap Kasipenkum Kejati DKI Nirwan Nawawi kepada detikcom, Selasa (6/8/2019).

Nirwan mengatakan tim sempat menuju kediaman Matheus di Jakarta Timur, tapi yang bersangkutan tidak ada di rumah. Nirwan menambahkan tim mendapat kabar bahwa Matheus sedang dirawat di sebuah rumah sakit dan ditangkap pada Jumat siang sekitar pukul 15.00 WIB.

"Mendapat Informasi terpidana Matheus sedang berada di salah satu rumah sakit di Jakarta Pusat, tim bergerak ke rumah sakit tersebut. Ditemukan terpidana sedang mengurus administrasi/pembayaran dan akan segera pulang ke rumah kemudian tim langsung membawa terpidana ke kantor Kejaksaan Negeri Jakarta timur dan sekitar pukul 15.00 WIB terpidana di eksekusi ke lapas Cipinang," ungkapnya.



Selain Matheus, kejaksaan mengeksekusi Ernawati Sikbolon selalu Direktur STT Setia. Ernawati menyerahkan diri ke Kejari Jaktim pada Senin (5/8) pagi kemarin.

Keduanya merupakan terpidana yang masing-masing dihukum 7 tahun dan denda Rp 1 miliar. Keduanya dipidana karena terbukti menerbitkan ijazah tanpa izin dilengkapi izin penyelenggaraan pendidikan. Keduanya terbukti bersalah melanggar Pasal 67 ayat (1) UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional juncto Pasal 55 ayat (1) KUHP.

Kuasa hukum Matheus, Herwanto, mengaku keberatan dengan eksekusi yang dilakukan oleh kejaksaan. Dia menegaskan, kliennya bukanlah seorang buronan dan telah menyampaikan surat penundaan eksekusi.

"Matheus Mangentang bukan buronan karena tanggal 29 Juli 2019 kami menyampaikan surat permohonan penundaan eksekusi karena sakit dan dalam berita acara pelaksanaan putusan pengadilan jaksa sengaja tidak memuat poin 4 dalam putusan yang isinya menyatakan para terdakwa tetap ditahan dalam tahan kota. Artinya ada yang disembunyikan oleh jaksa terhadap isi putusan oleh karena itu hari ini kami akan menyampaikan permohonan praperadilan. Kami juga sangat menyayangkan eksekusi yang dilakukan oleh Kejaksaan Jaktim terkesan tidak manusiawi karena dilakukan di rumah sakit saat klien kami sedang diinfus," ujar Herwanto.



Tonton video Komedian Qomar Pede Jalani Sidang Perdana Kasus Ijazah Palsu:

[Gambas:Video 20detik]


(rvk/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com