detikNews
Senin 05 Agustus 2019, 14:16 WIB

Bareskrim Bongkar Sindikat Penjualan Gula Rafinasi di Jateng dan DIY

Audrey Santoso - detikNews
Bareskrim Bongkar Sindikat Penjualan Gula Rafinasi di Jateng dan DIY Bareskrim Polri menjelaskan pengungkapan peredaran gula rafinasi. Sebanyak 30 ton gula rafinasi disita. (Audrey/detikcom)
Jakarta - Direktorat Tindak Pidana Umum (Dittipidum) Bareskrim Polri menangkap lima anggota sindikat peredaran gula rafinasi ke masyarakat. Sebanyak 30 ton gula rafinasi disita dari para tersangka. Gula rafinasi ini seharusnya diperuntukkan buat industri, tapi para tersangka menjualnya untuk konsumsi masyarakat.

Direktur Tipidum Bareskrim selaku Satgas Pangan, Brigjen Nico Afinta, menjelaskan pengungkapan praktik penjualan gula rafinasi ini bermula dari informasi masyarakat. Polisi lalu melakukan penyelidikan selama hampir tiga pekan di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta hingga menangkap para pelaku pada 18 Juli.


Nico menuturkan para penjual nakal mengoplos gula konsumsi dengan gula rafinasi demi mendapat keuntungan lebih. Modus kejahatan lainnya, para penjual nakal mengolah kembali gula rafinasi yang berwarna jernih dengan cara menyangrai agar terlihat kecokelatan mirip gula konsumsi.

"Adanya perbedaan harga inilah yang membuat pelaku melakukan pencampuran, atau pengolahan kembali, atau pembungkusan ulang, langsung dijual ke konsumen. Dari beberapa TKP (tempat kejadian perkara) di Jawa Tengah dan DIY, kita berhasil melakukan penangkapan dengan jumlah 600 karung dikali 50 kg per karung atau 30 ton," ujar Nico di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (5/8/2019).

Nico menuturkan penyidik telah menetapkan lima orang tersangka yang memiliki peran dari hulu hingga ke hilir dalam proses peredaran ilegal gula rafinasi ini. Para tersangka terdiri dari pemasok dan pengedar.

"Kami berhasil menangkap lima orang, mulai PT MWP yang memasukkan, ada PT BMM yang memperdagangkan, kemudian ada yang mencampur sampai kepada penjual langsung ke konsumen. Kemudian juga ada beberapa TKP pengiriman 7.800 karung atau setara 360 ton gula rafinasi ini," tutur Nico.

Kelima tersangka adalah E selaku Direktur PT BMM, H selaku Direktur PT MWP, W alias S selaku pembeli di wilayah Kutoarjo, S selaku pembuat gula konsumsi palsu, dan A yang berperan mendistribusikan gula konsumsi palsu tersebut.

"Saudara A memasarkan produk gula palsu merek PTPN X, di mana PTPN X tidak pernah memasarkan ini tapi tersangka pakai bungkus PTPN X dalam kemasan karung 50 kg, 5 kg, 2 kg, dan 1 kg," urai Nico.

"Kemudian Saudara W telah menerima 60 ton dari PT BMM, selanjutnya dia yang mengerjakan karung dengan berbagai merek untuk diserahkan kepada beberapa industri UKM, salah satunya Saudara S," lanjut Nico.

Nico menyampaikan tersangka H terbukti telah menjalani industri fiktif dengan beberapa kali melakukan perdagangan gula kristal rafinasi secara ilegal kepada konsumen. Berdasarkan dokumen yang disita, penyidik mendapati PT MWP telah melakukan pengiriman gula kristal rafinasi sebanyak 13 kali.

"Sebanyak 30 ton sekali kirim atau 350 ton untuk periode Juli 2019. Tim menangkap yang bersangkutan saat mengirim 1 truk gula rafinasi untuk konsumsi. Barang bukti disita di tepi jalan Kutoarjo, Jawa Tengah," kata Nico.


Nico menegaskan para tersangka telah melanggar Pasal 62 juncto Pasal 8 ayat 1 UU Nomor 18/2012 tentang Perlindungan Konsumen dan Pasal 139 juncto 144 UU Nomor 18/2012 tentang Pangan. Tersangka juga dijerat Pasal 110 36 ayat 2 Undang-Undang Nomor 7/2014 tentang Perdagangan dan Pasal 120 ayat 1 huruf b Undang-undang Nomor 3/2015 tentang Perindustrian.

Nico mengatakan penyidik juga akan menjerat para tersangka dengan pasal pencucian uang. "Kami coba merangkai aliran uangnya, sehingga kami kenakan Pasal 3 Undang-undang Nomor 8/2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) juncto Pasal 55 dan/atau Pasal 56 KUHP.

Sementara itu, Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan gula rafinasi berbahaya kesehatan masyarakat. Salah satunya bisa mengakibatkan kenaikan kadar gula darah.

"Dapat menyebabkan gula darah naik dalam waktu yang cepat. Ini meningkatkan risiko diabetes dan masalah penyakit berbahaya lainnya. Gula ini dapat menimbulkan berbagai masalah, seperti kolesterol," kata Dedi pada kesempatan yang sama.

Selain itu, Dedi menerangkan peredaran gula rafinasi menekan harga gula konsumsi yang dihasilkan petani tebu. Pasalnya, harga gula rafinasi lebih rendah dari gula konsumsi.

"Itu akan terdampak khususnya pada petani-petani tebu, kasihan. Sama dengan pengaruh harga, akibatnya nanti harganya jatuh, maka petani-petani tebu boleh dikatakan tidak lagi menanam tebu. Kalau tidak menanam tebu, program swasembada pangan pemerintah akan jauh dari kata bisa tercapai. Ini gambarannya," terang Dedi.
(aud/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com