BMKG: Zona Gempa Bisa Diprediksi tapi Tidak dengan Waktunya

Eva Safitri - detikNews
Sabtu, 03 Agu 2019 17:29 WIB
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono (Ari Saputra/detikcom)
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Sosok Eyang Ibung tengah heboh karena posting-annya di akun Facebook yang berisi ramalan gempa Banten M 6,9 pada Jumat (2/8) pukul 19.03 WIB. Apakah gempa bumi itu dapat diprediksi?

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Rahmat Triyono menyatakan gempa itu memang bisa diprediksi. Tapi hanya zona gempanya yang bisa diprediksi, bukan waktu peristiwanya.

"Kalau diprediksi daerahnya, lokasinya, ya bisa. Kalau diprediksi kapan terjadinya, kekuatannya berapa, jam berapa, itu ya belum bisa, sampai detik ini belum bisa karena mana yang bisa membuktikan itu," ujarnya di kantor BMKG, Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (3/8/2019).



Rahmat menjelaskan sampai saat ini belum ada teknologi yang bisa memprediksi terjadinya peristiwa bencana alam yang ekstrem. Meletusnya gunung api yang berada di atas permukaan bumi saja, menurutnya, tidak bisa diprediksi. Apalagi peristiwa gempa bumi yang berada pada kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer dari dasar laut.

"Contohnya dari gunung api sajalah, gunung api yang kelihatan, kayak Tangkuban Perahu, Merapi, pada saat aktivitasnya naik, ini bisa sebentar lagi erupsi. Tapi begitu kalau ditanya kapan, jam berapa, pasti nggak ada yang bisa jawab. Tapi tanda-tanda akan meletus iya ada," ucapnya.

"Itu saja gunung yang di permukaan nggak bisa diprediksi, apalagi gempa bumi yang letaknya ada di samudra lepas sana, kemudian ada di kedalaman sampai puluhan, bahkan ratusan km. Teknologi apa yang mampu memperkirakan atau memprediksi itu?" lanjut Rahmat.



BMKG tidak membantah jika dikatakan ada orang yang memprediksi lokasi akan terjadinya gempa bumi. Sebab, lokasi titik gempa itu pun sudah diketahui sebelumnya dari hasil pemantauan lempeng tektonik yang ada.

"Tapi kalau memprediksi lokasi, misalnya di selatan Jawa sepanjang itu, kemudian di sepanjang Sumatera, sesar Palu-Koro, ya jelas lokasinya memang di situ, karena sumber gempa di situ," kata Rahmat.

"Sekarang pun begitu saya jelaskan peta sumber gempa, misalnya, saya paparkan kepada Anda, ini loh sumber gempanya di sini, kemudian diprediksi nanti dalam waktu 10 atau 20 tahun ke depan akan terjadi gempa di selatan Jawa, misalnya. Nggak ada yang membantah,karena Anda sudah tahu lokasinya kemudian," imbuhnya.

Rahmat mengatakan ramalan dari Eyang Ibung terkait waktu akan terjadinya gempa bumi itu hanya kebetulan. Ia memastikan belum ada teknologi yang dapat memastikan waktu terjadinya gempa.

"Kalau misalnya barusan hari ini ngomong terus besok terjadi, itu kan bisa saja kebetulan, teknologi saja tidak mampu, apalagi ramalan begitu," tuturnya.




Tonton Video "BMKG: Megathrust Ancaman Riil RI":
(eva/dnu)