Pengamat: Belum Saatnya Kalla Bersaing dengan SBY
Rabu, 19 Okt 2005 22:43 WIB
Jakarta - Dalam era demokrasi saat ini, merupakan hal biasa jika presiden ditantang oleh wakil presidennya atau bahkan para menterinya dalam pertarungan menduduki kursi presiden. Namun aroma persaingan hendaknya dikatakan setahun sebelum Pemilu dimulai agar tidak mengganggu hubungan mereka sehingga berdampak pada terbengkalainya urusan negara."Sebaiknya dikatakan jauh-jauh hari. Takutnya nanti munculnya grouping di kabinet. Pelan-pelan para menteri pun akan memunculkan keberpihakan sebagian kepada presiden dan sebagian kepada wakil presiden," kata Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, setelah acara diskusi "Sandungan SBY-JK di Tahun Pertama" di Hotel Sahid, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (19/10/2005).Menurut Denny, perebutan kursi presiden itu nantinya akan ditentukan 2 hal yaitu partai pendukung dan figur dari tokoh itu sendiri. Mengenai kans Jusuf Kalla menempati posisi presiden, menurut Denny, Partai Golkar merupakan faktor yang menentukan. Namun hal lainnya yang juga penting punya pengaruh terhadap lepentingan Kalla adalah kinerja pemerintahan SBY-JK selama pemerintahannya."Jika kinerjanya buruk jangankan Kalla, SBY pun kalah dipasar dengan munculnya tokoh-tokoh seperti Megawati yang dulu kalah menjadi presiden oleh SBY," jelasnya.Denny berpendapat, peta kekuatan di politik elit, Kalla masih kuat dibanding SBY karena didukung oleh Partai Golkar dan sekelompok pengusaha. Namun di mata publik, SBY lebih kuat daripada Kalla karena dianggap publik, SBY lebih populer dibanding Kalla."Pemilihan langsung nanti yang milih bukan elit politik tapi publik luas. Tapi kita belum tahu jika ke depan Kalla lebih popular dari SBY atau bisa saja kedua-duanya tidak popular karena gagal dalam pemerintahan," tandasnya. Rekomendasinya untuk Kalla, kata Denny, lebih baik Kalla berkonsentrasi pada pemerintahan sekarang agar berhasil saat nanti mencalonkan diri menjadi presiden. "Sekarang ini bagaimana, dua tokoh ini saling bersinergi karena orang tahu bahwa Kalla lebih berperan dibanding SBY. Namun Kalla harus lebih bisa menarik diri agar SBY tetap tampil sebagai presiden," jelas Denny.
(atq/)











































