Dilarang Operasi Selama Ramadan, PSK Surabaya 'Turun Gunung'

Dilarang Operasi Selama Ramadan, PSK Surabaya 'Turun Gunung'

- detikNews
Rabu, 19 Okt 2005 20:12 WIB
Surabaya - Mungkin karena pelanggannya masih banyak, para pekerja seks komersial (PSK) di Surabaya masih aktif menjajakan diri di pinggiran jalan protokol selama bulan Ramadan ini. Bahkan razia Dispol PP Pemkot Surabaya tidak mereka gubris.Dengan blak-blakan para PSK yang berdandan mencolok itu melambai-lambaikan tangannya ketika ada kendaraan roda empat yang melaju pelan di depannya. "Om...," panggil mereka genit. Jam operasi mereka, uniknya, berubah dari bulan biasanya. Mereka mulai sejak pagi hingga sore hari khusus selama Ramadan.Berdasarkan pantauan detikcom, Rabu (19/10/2005), ruas jalan yang banyak ditemui pemburu hidung belang ini antara lain Jalan Panglima Sudirman dan Pemuda. Di sepanjang jalan itu, dengan beraninya belasan cewek dengan dandanan serokok mencari mangsa. Bahkan jumlah mereka terlihat lebih banyak dibanding sebelumnya.Selain membuat warga yang melintas mengelus dada prihatin, keberadaan mereka juga mengganggu kenyamanan masyarakat khususnya para kaum perempuan yang kebetulan juga menunggu angkutan umum di sepanjang jalan itu.Sebab, tak jarang para hidung belang yang sengaja mencari pekerja seks komersial di siang hari ini menghantam kromo. Sehingga menjadi sasaran rayuan pria hidung belang. Karena posisi pekerja seks tersebut memang berbaur dengan calon penumpang kendaraan lainnya, khususnya yang berada di Jalan Pemuda.Di depan Bank Internasional Indonesia, para wanita 'nakal' ini mangkal di sejumlah pedagang minuman kaki lima. Namun, mereka baru beraksi apabila 'mencurigai' kendaraan roda empat yang melambat lajunya untuk mengajaknya kencan.Selain di dua jalan protokol itu, pemandangan serupa juga bisa ditemukan di Jalan Diponegoro dan Jalan Ketabang. Namun, bedanya menggelar 'dagangannya' selepas petang hari. Jalan Diponegoro memang sejak lama dikenal lokasi mangkal para penjanja seks yang usianya bervariasi. Bandrol di tempat tersebut sedikit murah dibandingkan dengan lokalisasi 'resmi' di Dolli. Sedangkan di Jalan Ketabang, penjaja cinta ini dikuasi oleh para waria. Dengan busana seksi dan mengugah birahi, mereka terang-terangan menjaring hidung belang. Tentunya, pola tingkah waria ini mengundang senyum pemakai jalan yang melintas di kawasan itu. Diduga maraknya penjaja seks yang jumlahnya juga meningkat ini dipicu dengan larangan beroperasinyalokalisasi prostitusi oleh pemeritah kota. Selama Ramadan, semua hiburan malam dan sejenisnya dilarang buka. Karena itulah, sebagian para penghuni lokalisasi memilih 'turun gunung'. (atq/)


Berita Terkait