Jumlah-Dampak Gempa Meningkat, Begini Catatan BMKG soal Gempa di Juli

Jumlah-Dampak Gempa Meningkat, Begini Catatan BMKG soal Gempa di Juli

Jabbar Ramdhani - detikNews
Kamis, 01 Agu 2019 12:22 WIB
Jumlah-Dampak Gempa Meningkat, Begini Catatan BMKG soal Gempa di Juli
Gempa M 6,0 di Bali menyebabkan bangunan di Pulau Dewata mengalami kerusakan. (Foto: Antara Foto)
Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat terjadi peningkatan aktivitas kegempaan di bulan Juli. Pada Juli, jumlah kejadian gempa yang merusak juga lebih banyak.

"Hasil monitoring BMKG selama bulan Juli 2019, di Indonesia telah terjadi gempa bumi tektonik sebanyak 841 kali. Artinya, telah terjadi peningkatan aktivitas kegempaan jika dibandingkan dengan bulan Juni yang hanya terjadi gempa tektonik sebanyak 735 kali," kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, lewat keterangannya, Kamis (1/8/2019).


Dia mengatakan gempa tektonik pada Juni dan Juli banyak terjadi di wilayah Indonesia timur. Aktivitas pada Juli didominasi gempa dengan magnitudo kurang dari 5,0, yakni sebanyak 789 kali.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, gempa dengan magnitudo di atas 5,0 terjadi 52 kali. Pada Juni, gempa signifikan terjadi 35 kali.

Pada bulan Juli, gempa yang dirasakan terjadi sebanyak 84 kali. Jumlah ini meningkat dibanding bulan sebelumnya, yakni 65 kali.

Catatan BMKG tentang aktivitas kegempaan yang terjadi di Juli 2019Catatan BMKG tentang aktivitas kegempaan yang terjadi pada Juli 2019. (Foto: Dok. BMKG)


Jumlah kejadian gempa yang merusak pada Juli ada empat kali. Tercatat ada korban jiwa juga akibat gempa ini. Berikut ini daftarnya:
1. Gempa Maluku Utara, 7 Juli 2019, dengan magnitudo M 7,1 menyebabkan beberapa rumah rusak ringan di Sulawesi Utara.
2. Gempa Sumbawa, 13 Juli 2019, dengan magnitude M 5,5 yang menyebabkan beberapa rumah dan Pura rusak ringan di Sumbawa.
3. Gempa Halmahera Selatan, 14 Juli 2019, dengan magnitudo M 7,2 menyebabkan 13 orang meninggal dan lebih dari 2.000 rumah rusak di Halmahera Selatan.
4. Gempa Bali Selatan, 16 Juli 2019, dengan magnitudo M 6,0 menyebabkan beberapa bangunan rumah rusak ringan dan atap genting berjatuhan di Tuban, Badung, Denpasar, dan Banyuwangi.


Daryono mengatakan banyaknya kerusakan hingga ada korban jiwa menjadi bukti upaya mitigasi gempa bumi masih kurang. Padahal Indonesia berstatus negara rawan gempa.

"Sebagai masyarakat yang tinggal di wilayah rawan gempa, seyogianya kita sebisa mungkin terus mengupayakan terwujudnya bangunan tahan gempa karena mitigasi struktural adalah kunci utama dalam mitigasi gempa bumi, di samping memahami cara selamat saat terjadi gempa," tutur dia. (jbr/fjp)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads