PSK Surabaya 'Turun Gunung' di Siang Bolong Ramadan
Rabu, 19 Okt 2005 17:50 WIB
Surabaya - Mungkin pelanggannya masih banyak, para pekerja seks komersial (PSK) di Surabaya masih aktif menjajakan diri di pinggiran jalan protokol pada bulan Ramadan ini. Razia Dispol PP Pemkot Surabaya tidak mereka gubris.Dengan blak-blakan para PSK yang berdandan mencolok itu melambai-lambaikan tangannya ketika ada kendaraan roda empat yang melaju pelan di dekatnya. "Om...," panggil mereka genit. Yang lain merayu dengan berujar, "Mas, nggak bobok-bobok siang?" Para PSK ini beroperasi bergerombol. Tak jauh dari mereka sang germo mengawal. Germo ini juga menyediakan sepeda motor untuk, khusus menyediakan untuk konsumen yang minta dilayani di hotel. Jadi, dengan motor itu "objek dagangan" diantar, sedang konsumen melaju dengan mobilnya. Jam operasi para pramunikmat ini, sungguh fantastis, dimulai sejak pagi hingga sore hari.Pantauan detikcom, Rabu (19/10/2005) siang, ruas jalan yang banyak ditempati pemburu hidung belang ini antara lain Jalan Panglima Sudirman dan Pemuda. Di sepanjang jalan itu, dengan beraninya belasan cewek dengan dandanan seronok tengah mencari pelanggan. Bahkan jumlah mereka terlihat lebih banyak dibanding sebelumnya.Selain membuat warga yang melintas mengelus dada prihatin, keberadaan mereka juga mengganggu kenyamanan masyarakat khususnya kaum perempuan yang kebetulan juga menunggu angkutan umum di sepanjang jalan itu.Sebab, tak jarang para hidung belang yang sengaja mencari pekerja seks komersial di siang hari ini main hantam kromo. Perempuan baik-baik yang sedang menunggu angkot, menjadi sasaran rayuan pria nakal. Penyebabnya, para pekerja seks tersebut berbaur dengan calon penumpang kendaraan lainnya, khususnya yang berada di Jalan Pemuda.Di depan Bank Internasional Indonesia, para penjaja cinta ini mangkal di sejumlah pedagang minuman kaki lima. Namun mereka baru beraksi begitu mencium ada kendaraan roda empat yang melambatkan lajunya. Namun ada juga mobil yang langsung memberi kode dengan menyalakan lampu. Bila ada kode itu, PSK segera masuk ke mobil. Transaksi dilakukan sambil jalan. Jika oke, mobil melaju ke arah tujuan. Tapi bila tidak transaksi gagal, mobil berputar menuju ke tempat asal dan menurunkan sang wanita.Ongkos kencan short time Rp 150.000-200.000.Selain di dua jalan protokol itu, pemandangan serupa juga bisa ditemukan di Jalan Diponegoro dan Jalan Ketabang. Namun bedanya PSK di sini menggelar diri selepas petang hari. Jalan Diponegoro memang sejak lama dikenal sebagai lokasi mangkal para penjaja seks yang usianya bervariasi. Bandrol di tempat tersebut sedikit murah dibandingkan dengan lokalisasi 'resmi' di Dolli. Sedangkan di Jalan Ketabang, penjaja cinta ini dikuasi oleh para waria. Dengan busana seksi, mereka terang-terangan menjaring hidung belang. Tentunya, pola tingkah waria ini mengundang senyum pemakai jalan yang melintas di kawasan itu. Diduga maraknya penjaja seks yang jumlahnya juga meningkat ini dipicu dengan larangan beroperasinya lokalisasi prostitusi oleh pemerintah kota. Selama Ramadan, semua hiburan malam dan sejenisnya dilarang buka. Karena itulah, barangkali sebagain penghuni lokalisasi memilih 'turun gunung'. Diduga karena butuh uang untuk makan sehari-hari dan berlebaran, 'kupu-kupu' ini nekat kelapan di pinggir jalan di siang hari bulan Ramadan. Beberapa di antara mereka juga mengaku perlu modal untuk hengkang ke Bali.'Turun gunung' ini membuat populasi PSK di pinggir jalan lebih banyak dari biasanya. Mereka harus bersaing dengan pelacur spesialis pinggir jalan yang merajai sebelumnya.
(nrl/)