Pasien Berinisial KP di RSUD Solo Negatif Flu Burung
Rabu, 19 Okt 2005 15:27 WIB
Solo - Pasien berinisial KP yang sejak awal di RSUD dr Moewardi, Solo, berada dalam status observasi flu burung, hari ini dinyatakan negatif dari virus mematikan tersebut. Dia hanya terserang virus yang menyebabkan pasien terjangkit morbili atau campak. Namun hingga dua hari ke depan dia akan tetap diisolasi.Keterangan tersebut disampaikan Ketua Staf Medis Fungsional (SMF) Paru RSUD dr Moewardi, Dr dr Eddy Suryanto. Menurut Eddy, dari pemantuan dan pemeriksaan fisik secara ketat oleh tim medis, tidak diketemukan indikasi bahwa pasien terserang virus flu burung. Dengan demikian status observasi yang diterapkan pada pasien tidak ditingkatkan menjadi suspect."Gambar paru-paru baik, tidak ditemukan pneumonia, panas badan mulai hari ini menurun dari biasanya 38 menjadi di bawah 37 derajat celcius. Meskipun kadar lecosit dalam darah pasien masih di bawah normal tetapi ketahanan tubuhnya semakin membaik dan mulai keluar bintik-bitik morbili. Namun kami akan tetap melakukan observasi terhadap selama tiga hari ke depan," ujar Eddy.Dijelaskan pula KP akan tetap dirawat di ruang khusus karena masih perlu diisolasi. Isolasi dilakukan untuk menjaga keamanan pasien lain dari kemungkinan tertular penyakit yang diderita KP.Meskipun sudah dinyatakan bukan flu burung, kata Eddy, campak adalah juga penyakit menular yang disebabkan virus sehingga tetap dikategorikan pasien risiko tinggi.Salah seorang staf di SMF Paru RS Moewardi, dr Yusuf Subagio, mengatakan, morbili biasanya menjangkiti anak-anak. Namun bukan tidak mungkin juga menjangkiti orang dewasa jika semasa kecilnya belum pernah terkena penyakit tersebut, sehingga badannya belum membentukimunitas.Tetap Dipungut BiayaWadir Bidang Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD dr Moewardi, dr Tri Lastiti W, mengatakan bahwa KP ditangani khusus dengan standar pasien flu burung karena berbagai pertimbangan. Namun demikian setelah diketahui bahwa pasien tersebut negatif flu burung maka dia tetap akan dikenai biaya perawatan.Pertimbangannya adalah dia mengalami panas badan tinggi selama lebih sepekan, mengeluhkan sakit ditenggorokan serta mempunyai riwayat bekerja di pemotongan ayam. Bahkan hingga kondisi sakit panas,kata Tri, remaja 19 tahun asal Kartosuro, Sukoharjo, tersebut masih tetap bekerja memotongi ayam di usaha peternakan milik orangtuanya."Jika pasien dinyatakan positif terjangkit flu burung maka dibebaskan dari seluruh biaya karena akan ditanggung Depkes. Namun karena akhirnya dia hanya sakit morbili maka dia akan tetap membayar biaya perawatan. Apalagi dia pasien mampu, bukan warga miskin yang tidak mempunyai asuransi kesehatan," paparnya.Lebih lanjut Tri menyayangkan pemberitaan media massa yang kurang proporsional sehingga sangat merugikan pasien. "Dia baru diobservasi tapi sudah ditulis suspect. Padahal ada tingkatannya yang masing-masing tingkatan itu sangat berbeda kondisinya. Tingkatannya adalah observasi, suspect, probable lalu confirm," kata Tri.
(nrl/)











































