Kebijakan Tak Populer Penyebab Popularitas Kalla di Sulsel Anjlok
Rabu, 19 Okt 2005 15:19 WIB
Jakarta -
Semakin merosotnya popularitas Jusuf Kalla di Sulsel ditengarai karena kebijakan yang diambilnya dinilai tak populer. Kenaikan harga BBM hingga 100% lebih, kian membuat warga kesal. Hal ini diungkapkan SM Noor, pengamat politik dari Universitas Hasanuddin (Unhas), ketika ditemui di Fakultas Hukum, kampus Unhas, Jl Perintis Kemerdekaan, Makassar, Rabu (19/10/2005). "Meski belum ada survei yang pasti, popularitas Kalla memang menurun. Coba saja Anda tanya para pengendara di jalan. Tanya para warga yang antrean minyak tanah di luar. Tanya mereka. Senang atau nyesal milih SBY-JK? Ini karena kebijakannya tidak populer. Dan dampaknya, langsung terasa," tutur dosen yang kerap dipanggil Bang Nur ini. Menurut SM Noor, rakyat tidak mau tahu dengan persoalan yang dihadapi negara, mereka hanya mau tahu bagaimana mereka bisa makan. "Persoalan ekonomi dunia tak mungkin bisa dimengerti oleh rakyat kecil. Tugas pemerintah ya membuat mereka tetap masih bisa bertahan hidup. Caranya, dengan tidak membuat harga kebutuhan pokok naik. Ini kebijakan populer," terangnya. SM Noor memprediksi jikalau pada pemilihan yang akan datang pemilih JK akan merosot. "Bisa jadi suara di Sulsel. Dan bukan hanya Sulsel tapi di Sulawesi, suara JK bisa menurun. Terutama di mata warga kelas menengah ke bawah. Kecuali kalau ada perubahan drastis, misalnya membuat kebijakan yang prorakyat," tuturnya. Selain itu, SM Noor juga menanggapi soal banyaknya kritik tentang JK yang dinilai terlalu banyak bicara di media. "Prototipe orang Makassar memang begitu. Awalnya, JK disenangi karena ceplas- ceplos tapi langsung kerja. Sekarang orang mulai tak senang. Karena banyak ngomong, tapi kebijakannya dinilai merugikan," terangnya.
(nrl/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































