detikNews
Selasa 30 Juli 2019, 16:12 WIB

Cerita Mantan Petani Pembakar Lahan Beralih Jadi Pembuat Kompos

Raja Adil Siregar - detikNews
Cerita Mantan Petani Pembakar Lahan Beralih Jadi Pembuat Kompos Foto: Raja Adil Siregar/Detik.com
Palembang - Kesadaran masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan saat akan memulai pertanian sepertinya kini sudah mulai dirasakan. Bahkan, upaya tersebut dianggap lebih menguntungkan.

Seorang petani asal Ogan Komering Ilir, Sugeng menyebut sudah mulai bertani dengan cara modern dan sadar bahaya. Bagaimana tidak, mereka yang awalnya membakar kini mulai beralih.

"Kalau dulu kami buka lahan, bertani itu selalu bakar lahan. Tapi setelah adanya pembinaan dari APP Sinar Mas, saat ini sudah beralih. Tidak ada bakar lagi dan yang ada adalah membuat kompos jadi pupuk," cerita Sugeng ditemui di Pusat Komado Pengendalian Karhutla APP Sinar Mas, Selasa (30/7/2019).

Pembuatan kompos sendiri, disebutnya cukup efisien. Bahkan cara-cara itu pun dinilai dapat meningkatkan hasil dalam pertanian. Apakah itu pertanian jagung, padi atau buah-buahan.

Tidak hanya membuat petanian tumbuh subur, sejak 2016 lalu Sugeng mengaku sudah memulai jadi petani organik. Ada beberapa petani yang sudah ikut trelibat dalam program tersebut.


"Kalau saya pribadi menilai, buka lahan dengan tidak membakar ini baik sekali. Karena ada juga lahan yang dibakar itu malah jadi gandus, bukan subur. Kalau melalui program ini kita diberikan ilmu dalam pemanfaatan lahan," imbuhnya.

"Peningkatan pertanian tentunya telah dirasakan di desa kami. Bakar-bakar di kebun sudah tidak ada dan yang paling penting kebakaran hutan dan lahan tak ada lagi karena semua masyarakat dan petani sudah sadar risikonya," katanya lagi.

Semrntara Head of Social and Security Sinar Mas Forestry Region Palembang, Zulhadi Aziz menyebut di sekitar area konsensi perusahaan ada sebanyak 60 desa rawan kebakaran lahan. Namun pada 2019 ini perusahaan mampu memberikan pendampingan hingga 41 desa.

"Target hingga akhir ini pendampingan desa rawan kebakaran lahan program DMPA ada sekitar 41 desa. Untuk saat ini sudah berjalan 27 desa," kata Aziz.

Ia menjelaskan, masyarakat didukung untuk mengelola lahan dengan metode agroforestry. Seperti bercocok tanam tumpang sari holtikultura berupa sayur dan buah, tanaman pangan, peternakan dan perikanan, juga industri kecil dan menengah untuk olahan pangan.

"Kami mengedukasi petani supaya bisa meninggalkan teknik pembukaan lahan dengan dibakar. Di mana permasalahan petani itu umumnya hasil produksi yang rendah dan rentan karena hama, kami bantu lewat sosialisasi, pendampingan dan pemberian bantuan alat-alat untuk meningkatkan produktivitas," ujarnya.


Contohnya di Desa Bukit Batu dan Desa Simpang Heran, petani padi dan jagung yang sudah menerapkan program DMPA mengalami peningkatan pendapatan rata-rata 20-50 persen per kepala keluarga setiap bulannya. Untuk industri rumahan yang dihasilkan dari desa itu di antaranya keripik singkong, keripik pisang dan keripik tempe.

Di Desa Simpang Tiga Makmur dan Desa Simpang Tiga Jaya, perusahaan mendukung kegiatan produksi dan pemasaran dari industri rumahan pembuatan kerupuk, kemplang, dan bandeng presto.

"Masyarakat yang diberi pendampingan ini untuk meningkatkan produksi hingga pendapatan rata-rata 5-10 persen setiap bulan dengan omzet mencapai Rp 5 juta sampai Rp 10 juta per kepala keluarga," jelasnya.

Dengan adanya pemberdayaan dengan program DMPA ini tentunya akan dapat menyelesaikan tantangan yang ada saat ini. Tantangannya bukan hanya memberikan bantuan tapi mengubah paradigma dari masyarakat tentang kebakaran.

"Setiap desa sekarang ada satu tenaga pendamping dan membantu memonitor kegiatan di lapangan. Kami upayakan secara maksimal supaya tidak ada lagi karhutla di desa binaan yang diketahui merupakan desa rawan karhutla," kata Aziz.


(idr/idr)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com