Setahun SBY-JK
Di Makassar, Kalla Mulai Dicemooh
Rabu, 19 Okt 2005 13:51 WIB
Makassar - Setahun berkuasa, tanggapan miring mulai terdengar di Makassar, Sulsel yang merupakan kampung Kalla. Sejumlah kebijakan yang ditelorkannya bersama SBY dinilai banyak merugikan rakyat. Setahun yang lalu, terpilihnya Jusuf Kalla, sebagai wakil presiden mendampingi SBY membuat warga Sulsel, khususnya Makassar bangga. Pasalnya, Ketua Umum Partai Golkar ini adalah putera Sulsel asli. Saat itu, citra Jusuf Kalla memang naik daun. Kiprahnya sebagai Menko Kesra dinilai berhasil. Terlebih dengan mendalangi terjadinya perjanjian Malino I dan II, yang akhirnya menjadi pemicu redanya konflik di Ambon. Tak heran jikalau para pemilihan Pilpres lalu, Kalla meraih suara sedikitnya 80% di Sulsel. Kalla dipuja sebagai putera Sulsel yang diharap mampu membuat rakyat sejahtera. Namun setahun Kalla menjadi wapres, tanggapan miring mulai terdengar. Bahkan, di Makassar, setiap kali ada kebijakan SBY-JK yang dinilai timpang dan merugikan rakyat, tak segan mahasiswa mendatangi rumah kediaman JK di Jl Haji Bau, Makassar. "Jusuf Kalla tak kami akui lagi sebagai orang Sulsel. Dia tidak peduli dengan penderitaan rakyat," teriak mahasiswa, beberapa waktu lalu saat melakukan unjuk rasa di depan kediaman JK. Kala itu mahasiswa menentang kenaikan harga BBM. Kebijakan SBY- Kalla dianggap tidak berpihak kepada rakyat kecil. Dua kali kenaikan BBM, membuat rakyat kian terseok. "Tidak ada bedanya dengan pemerintahan yang dulu-dulu. Orang kecil tetap jadi korban. Asalnya saja dari Sulsel, tapi tetap tak memikirkan kami (rakyat kecil)," ujar Syamsiah, salah seorang pedagang korban gusuran di pelabuhan Makassar. "Dulunya kami dukung Jusuf Kalla karena dia orang kita. Saya juga dengar dia rajin membangun mesjid. Tapi buktinya, sejak memerintah, rakyat kian sengsara," tutur Syamsiah. Kapok memilih pasangan SBY-JK waktu pemilihan lalu, Syamsiah bertekad tidak mau ikut pemilu lagi. "Nanti mungkin saya golput. Mending tidak memilih. Percuma," terangnya. Tak jauh beda dengan Syamsiah, Daeng Nai, sopir pete-pete jurusan Makassar Mall- Tallo Lama, kini tak mau lagi memakai pendekatan kedaerahan. "Kalau memang berpihak ke rakyat, meskipun orang yang berasal dari mana saja. Jusuf Kalla naik, harga BBM malah naik sampai dua kali dalam setahun. Kita nantinya mau makan apa?," ujar Daeng Nai.
(nrl/)











































