Dampak BBM Naik: Makan 2 Kali, Bolos Ngantor Sekali Seminggu

Dampak BBM Naik: Makan 2 Kali, Bolos Ngantor Sekali Seminggu

- detikNews
Rabu, 19 Okt 2005 12:57 WIB
Jakarta - Banyak trik untuk berhemat pasca kenaikan BBM yang diikuti meroketnya segala barang dan jasa. Ada yang terpaksa mengurangi jatah makannya jadi dua kali, bahkan ada yang punya ritual rutin, membolos sekali seminggu. Lumayan, bisa hemat transpor Rp 17 ribu!Inilah penurunan standar hidup ala pembaca detikcom yang dikirimkan lewat surat elektronik, Rabu (19/10/2005):Gega Gede Bahy Saya tinggal di Bekasi, kerja di Rasuna Said. Akibat kenaikan harga BBM yang mencekik leher, saya harus memangkas ongkos jemputan untuk anak saya yang no 1 setiap bulan sebesar Rp. 110.000. Caranya saya sharing dengan tetangga saya yang kebetulan anaknya satu sekolah dengan anak saya. Jadi tiap pagi sebelum berangkat kerja saya harus antar dulu anak saya dengan temannya kesekolah, sedangkan pulangnya dijemput oleh tetangga saya tersebut. Sedangkan anak saya yang no 2 yang biasanya pulang sekolah naik becak Rp.5.000/ hari, sekarang pulangnya harus menunggu saya pulang kerja di rumah neneknya. jarak rumah saya dengan rumah nenek sekitar 1/2 km. Akibatnya siang hari anak saya yang biasanya tidur, malah jadi nggak tidur karena nggak kekontrol, malamnya setelah dijemput pulang kerumah sudah capek dan nggak bisa belajar. Akibatnya prestasi anak-anak yang diharapkan menjadi generasi penerus bangsa menjadi sangat jauh menurun. Adi PrakosaKurangi pemakaian AC: Mulai dari mengurangi pemakaian AC di rumah, kalau dulu langsung pasang AC di kamar begitu mau tidur sampai pagi.. sekarang jarang banget dipakai, keringetan sih... paling diakali dengan ganti baju kalau bajunya basah. Kurangi pemakaian telepon/internet di rumah: Caranya download email di kantor, balas offline di rumah. Kirim lagi dari kantor... :-) Mencuci dengan mesin cuci dari tiap hari jadi 2-3 hari sekali: Menghemat listrik dan sabun. Jalan-jalan masih tetap dilakukan seminggu sekali, ya buat refreshing aja. Walau kita sedang mencoba untuk tidak sering ke mall tapi ke tempat-tempat rekreasi yang murah... Kebun Raya Bogor, Bonbin Ragunan atau Ancol. Tapi kalau ke mall sebisa mungkin tidak pada waktu jam makan. Jadi berangkat dari rumah setelah makan siang dan pulang sebelum makan malam. Jadinya enggak perlu jajan makanan. Untungnya anak saya 11 bulan sudah tidak pakai diapers lagi kalau tidur, jadi lumayan ngirit. Kalau dulu 1 bulan bisa habis 2 pack besar sekarang 1 pack kecil saja tidak habis dalam sebulan. Tapi yang lebih menguntungkan saya adalah lokasi kantor dekat rumah, bensin untuk mobil saya ditanggung sama kantor. Sekarang paling tidak ada 2 orang rekan sekantor yang bareng dengan mobil saya yaa sama-sama menguntungkan... saya ada teman di jalan, dan mereka enggak perlu keluar ongkos angkot. Joko Saya tinggal di Cibinong, kerja di Kebon Sirih. Semenjak kenaikan BBM yang gila ini, yang tadinya saya bawa motor dari rumah ke kantor, sekarang motor tetap dibawa tapi dititipin di penitipan motor di Stasiun Kereta Api Depok. Selanjutnya melanjutkan naik kereta api dan saya turun di Stasiun Gondangdia, kebetulan kantor saya tidak jauh dan hanya berjarak kurang lebih 5 mnt untuk sampai ke kantor. Alhamdulilah..selain irit bensin, juga irit tenaga. Bisa dibayangin saya biasanya mengisi bensin seminggu sampai 3 kali, sekarang hanya seminggu 1 kali dengan masing-masing pengisian 10.000. Berarti saya berhemat : 3 x 10.000 = 30.000 sebelumnya. Dan sekarang setelah dititipin di stasiun hanya Rp 10.000, lumayan besar hematnya sampai Rp 20.000.Deni:Saya, PNS sebuah instansi pemerintahan di Jakarta Pusat. Sejak kenaikan harga BBM, saya mengatur penghematan dengan tidak masuk kantor 1 hari dalam seminggu. Biaya transpor sebelum kenaikan BBM Rp. 9.000 (pulang pergi), sekarang Rp. 17.000. Kalau tidak masuk ke kantor lumayan ngirit Rp 17.000 buat nambahin beli sayur dan jajan anak.Ny. Reni, tinggal di Semarang.Dulu sebelum harga BBM naik, saya mampu memberikan susu formula dengan kualitas baik kepada anak saya (4 bulan ), mengingat saya tidak bisa memberikan ASI kepada anak saya. Namun setelah harga BBM naik, saya berstrategi dengan mengoplos susu anak saya, dengan susu yang lebih murah, tapi masih 1 merek. Morinaga BMT (merah) dengan harga 47.500/kaleng 400 gr, diberikan waktu siang, dan Morinaga BMT Platinum (kuning) dengan harga 73.200/kaleng 400gr diberikan pada waktu malam.Tekad AKami dari 'Komunitas Pekerja Bersepeda' atau B2W : BikeTo Work. Kami sedang/masih dan tetap menggalakkan sepeda untuk kekantor. Bintaro ke Sudirman/Thamrin, Minangkabau ke Pulo Gadung, Tebet ke Gt. Subroto, Tanjung Barat ke Sudirman, Pondok Kelapa ke Sudirman dll. Memang tidak semua B2Wers melakukannya tiap hari tapi saya sendiri mengusulkan ke B2Wers untuk melakukan di hari Senin, Rabu, Jum'at supaya kelihatan gregetnya. Bahkan kami sudah ber-B2W dengan Bapak Wagub. Untuk saya ongkos angkutan per hari Rp.8.000 PP dan di bulan puasa ini saya tetap melakukannya tiap hari. BBM mahal ataupun murah Jakarta masih saja macet dan berpolusi. Apa pun sepedanya mari kita ke kantor naik sepeda.AntoSaya salah seorang karyawan swasta di bilangan Sudirman, tinggal di Ulujami (dengan ortu) dan keluarga istri dan anak di Cianjur, Jabar. Biasa saya bekerja dengan kendaraan umum menghabiskan uang Rp 18 ribu rupiah/hari kali 20 hari (kerja) belum termasuk makan dan kalau weekend menjenguk.Istri kebetulan masih tingggal dengan mertua di Cianjur. Dengan kendaraan umum bus luar kota dan sekali angkot sampai ke rumah kembali ke Jakarta lagi untuk bekerja Senin subuh menghabiskan uang Rp 50 ribu rupiah untuk PP kali 4 (sebulan) . Dengan kenaikan BBM yang cukup tinggi ini saya menyiasatinya dengan membeli motor. Dan harus di pakai juga untuk menjenguk istri di kala weekend/libur. Duh beratnya hidup ini, tekor dah gaji saya.SintaSaya seorang karyawan di Solo. Sehari-hari saya berangkat dan pulang kerja naik Vespa. Yang biasanya Rp 10 ribu bisa buat 6 hari, tapi sekarang Rp 20 ribu untuk 6 hari. Itu baru transpor, belum yang lain-lain. Untuk menghemat, sehari biasa makan 3 kali, sekarang saya kurangi menjadi 2 kali sehari. BagusSaya ke kantor yang jarakya kurang lebih 1 KM dari tempat kos yang biasanya naik angkot, sekarang jalan kaki saja, hitung-hitung olahraga. Begitu pun pulangnya. Biasanya saya membeli beberapa buku hobby dalam sebulan, sekarang membeli buku dibatasi maksimal 2 buah itu pun dengan pertimbangan buku itu sangat perlu dan tidak bisa diperoleh dari internet. Biasanya setiap Sabtu atau Minggu berjalan-jalan dengan pacar (belanja, makan, rekreasi, nonton), sekarang cukup SMS dan menggunakan e-mail saja, acara jalan-jalan cukup 1 kali dalam sebulan. AndiBagi saya yang biasa naik ojek dari dan ke pintu gerbang ke titik rumah kecil saya, saya ubah dengan cara yang mengakibatkan tipisnya sol sepatu saya. Soal kebiasaan makan luar, wah ini repot juga - paling akan mengubah menu dan jumlahnya serta frekuensinya, juga kebiasaan ke mall dan ke FO mungkin diganti ke minimarket dan pasar becek saja. Yang "kasihan" juga ya tetangga saya - harus bersikap realistis dan bijaksana serta mengurangi kenikmatan hidupnya dengan cara Kijang Innova barunya dikandangkan. Dia ganti naik motor dari rumah ke terminal Baranangsiang - dititipkan dan naik bus. Dari pengeluaran sekitar Rp100.000 untuk bensin dan tol -- bisa hemat 70%nya hanya mengeluarkan Rp 30.000,- dengan naik motor (terkadang berhujan ria) disambung bus. (nrl/)


Berita Terkait