Banjir dan Longsor di Aceh Tenggara, 10 Ribu Warga Mengungsi
Rabu, 19 Okt 2005 11:34 WIB
Medan -
Longsor yang terjadi di Aceh Tenggara pada Selasa tengah malam, (18/10/2005) menyebabkan sekitar 10 ribu warga enam desa di Kecamatan Semadam terpaksa mengungsi ke sejumlah tempat. Hal ini dilakukan untuk menghindari kemungkinan terjadinya longsor dan banjir bandang susulan.Keterangan yang diperoleh detikcom dari Kutacane, ibukota Aceh Tenggara, Rabu (19/10/2005) menyebutkan, para pengungsi sudah mulai memenuhi tiga tempat, yakni Stadion Haji Syahadat dan Gedung Olahraga di Jalan Manunggal,Kutacane, serta Bandara Alas Leuser. Selain itu, mereka juga menempati lapangan-lapangan yang serta mendatangi rumah-rumah penduduk yang masih terhitung keluarga."Pengungsian masih terus berlangsung. Karena masyarakat, terutama yang bermukim di bawah bukit,khawatir longsor susulan," kata Abadi, salah seorang warga yang dihubungi di Kutacane. Para pengungsi, terutama berasal dari enam desa yang menjadi korban, yakni Desa Titi Pasir, Kebon Sere, Kampung Baru, Lawe Beringin, Semadam Awal dan Semadam Asal. Longsoran yang terjadi pada Selasa (18/10/2005) sekitar pukul 23.00 Wib, mengakibatkan ratusan rumah rusak. Belum ada keterangan resmi dari pejabat maupun aparat di Aceh Tenggara. Namun setidaknya ada 200 rumah yang mengalami rusak berat, hancur ataupun hangut dibawa air. Kasus banjir bandang dan tanah longsor terakhir terjadi pada 26 April 2005. Banjir bandang menerjang tiga desa di Kecamatan Badar, Aceh Tenggara, Desa Jongar, Lawe Mengkudu dan Lak-lak. Air yang datang sekira pukul 22.30 Wib,di Kecamatan Badar, mengakibatkan puluhan rumah rusak dan 20 orang tewas.
(jon/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































