detikNews
Senin 29 Juli 2019, 14:45 WIB

Polisi Dalami Kasus Hoax Nasabah Fintech Ilegal 'Rela Digilir'

Audrey Santoso - detikNews
Polisi Dalami Kasus Hoax Nasabah Fintech Ilegal Rela Digilir Karo Penmas Mabes Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta - Korban fintech pinjaman online yang viral karena hoaks 'rela digilir', YI, melapor ke polisi. Polisi siap mendalami pelaporan itu.

"Itu sedang didalami Direktorat Siber," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (29/7/2019).

YI merupakan korban hoax yang dibuat debt collector karena dirinya belum mampu melunasi utang. Dedi menegaskan kejadian yang dialami YI adalah perbuatan melawan hukum.

"Itu perbuatan melawan hukum, jelas," tegasnya.



Hoax di media sosial yang dibuat debt collector pinjol ilegal itu adalah seolah-olah YI rela 'digilir' demi melunasi utangnya sebesar Rp 1.054.000. Dedi mengatakan hoax tersebut merupakan modus si debt collector untuk menekan YI agar segera melakukan pelunasan.

"Itu modus-modus yang dilakukan oleh fintech-fintech untuk menekan konsumen yang belum mampu melunasi hutangnya atau terjerat hutang oleh bujuk rayu fintech itu," ucap Dedi.

Dalam kasus ini, YI telah melaporkan pembuat hoax dan perusahaan pinjol ilegal ke Polres Surakarta. Laporan dilakukan YI dengan didampingi penasehat hukum dari LBH Solo Raya pada Rabu, 24 Juli 2019 malam.

Kasus bermula setelah YI meminjam uang melalui empat fintech dalam waktu berbeda, yakni Incash, Cari Kartu, Kusaku, dan Kertas Flash. Dia mengaku tidak tahu fintech tersebut ilegal.

"Karena belum sanggup membayar saat jatuh tempo, YI mendapatkan teror dari orang-orang yang diduga berasal dari perusahaan fintech tersebut. Teror dilakukan dalam bentuk makian," kata kuasa hukum YI, Gede Sukadewana Putra di kantor LBH Solo Raya, Sukoharjo, Kamis (25/7).



YI menyebut teror terparah ialah dari Incash yang sampai membuat poster berisi hoaks bahwa dirinya rela 'digilir' agar bisa membayar utang senilai Rp 1.054.000.

"Dia membuat grup WhatsApp yang berisi seluruh kontak di handphone saya dan menyebarkan hoaks itu. Padahal di situ banyak klien saya," kata pegawai pemasaran perusahaan garmen di Solo itu.
(aud/imk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed