Siang Bolong Berkabut, Jakarta Masih Puncaki Kota Terpolusi di Dunia

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Senin, 29 Jul 2019 13:14 WIB
Kondisi Jakarta Senin 29 Juli 2019 siang (Foto: Toriq/detikcom)
Jakarta - Jakarta masih menjadi kota paling berpolusi di dunia versi aplikasi pemantau udara AirVisual. Kondisi Jakarta siang ini tampak berkabut.

Kondisi berkabut itu terlihat dari atas perkantoran. Pandangan mata sedikit kabur.

Dilansir AirVisual di situsnya, Senin (29/7/2019) 12.54 WIB, Air Quality Index (AQI) Jakarta berada di angka 175. Artinya kualitas udara di Jakarta tidak sehat. Ranking polusi ini tidak tetap dan dapat berubah sewaktu-waktu.


Siang Bolong Berkabut, Jakarta Masih Puncaki Kota Terpolusi di DuniaKondisi Jakarta Senin 29 Juli 2019 (Foto: Toriq/detikcom)

AQI merupakan indeks yang menggambarkan tingkat keparahan kualitas udara di suatu daerah. AQI dihitung berdasarkan enam jenis polutan utama, seperti PM 2,5, PM 10, karbon monoksida, asam belerang, nitrogen dioksida, dan ozon permukaan tanah.

Rentang nilai dari AQI adalah 0 sampai 500. Makin tinggi nilainya menunjukkan Makin tinggi tingkat polusi udara di wilayah tersebut. Skor 0-5 berarti kualitas udara bagus, 51-100 berarti moderat, 101-150 tidak sehat bagi orang yang sensitif, 151-200 tidak sehat, 201-203 sangat tidak sehat, dan 301-500 ke atas berarti berbahaya.


AirVisualAirVisual Foto: Istimewa


AQI 175 di DKI Jakarta berarti kualitas udara di Ibu Kota tidak sehat (unhealthy). AirVisual merekomendasikan agar kelompok sensitif mengurangi aktivitas di luar ruangan. Setiap orang perlu mengenakan masker polusi. Ventilasi tidak dianjurkan. Pemurni udara perlu dinyalakan bila udara dalam ruangan tidak sehat.

Setelah Jakarta global, Johannesburg (Afrika Selatan) menempati posisi kedua kota berpolusi pada siang ini dengan AQI 158. Disusul Dubai (Uni Emirat Arab), Taskhent (Uzbekistan) dan Kabul (Afghanistan).



Pada pagi hari tadi, Jakarta juga menjadi kota paling berpolusi menurut AirVisual. Per pukul 06.10 WIB, Air Quality Index (AQI) Jakarta berada di angka 188.

Setelah Jakarta global, Tashkent (Uzbekistan) menempati menempati posisi kedua kota berpolusi pagi ini dengan AQI 173. Lalu diikuti Dubai (United Arab Emirates), Tehran (Iran), dan Johannesburg (South Africa).

Penjelasan Pemprov DKI soal Kualitas Udara Ibu Kota

Pemprov DKI menyebut, proyek pembangunan trotoar yang dimaksud berada di Jalan MH Thamrin ataupun Cikini. Proyek inilah yang dinilai menghasilkan debu-debu sehingga memperburuk kualitas udara.

"Saya kemarin dapat laporan dari teman-teman Laboratorium LH, di seputaran Thamrin itu lagi pembenahan trotoar.... Kebetulan titik kami pun termonitor, pengukuran Dinas LH itu. Jadi akan berpengaruh," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Andono Warih, Kamis (25/7).



"Sekarang sedang ada (pembangunan trotoar), di Cikini juga dilihat. Dari sumber primer sendiri bikin debu, sekunder juga nambah kemacetan kan asap lebih banyak. Kan di titik itu saat ini tentu akan ada peningkatan sementara ini," sambungnya.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan belum menjelaskan solusi terkait polusi udara yang makin parah. Anies berjanji akan menjelaskannya segera.

"Selama masih musim panas, kita akan masih menyaksikan seperti ini (polusi tinggi). Nanti saya akan jelaskan lebih lengkap lagi," kata Anies kepada wartawan di SMA Kolose Kanisius, Jakarta Pusat, Jumat (26/7).


Simak Video "Begini Kondisi Proyek Trotoar yang Disebut Perparah Polusi Jakarta"

[Gambas:Video 20detik]

(knv/fjp)