Dampak BBM Naik: Bajaj Diganti Jalan Kaki, Daging Diganti Ikan

Dampak BBM Naik: Bajaj Diganti Jalan Kaki, Daging Diganti Ikan

- detikNews
Rabu, 19 Okt 2005 10:33 WIB
Jakarta - BBM naik 128% membuat harga barang dan jasa ikut terkatrol. Agar bisa bertahan hidup, masyarakat harus pandai-pandai mengatur strategi.Misalnya saja Ayu, warga Senen, Jakarta Pusat. Karyawati swasta itu memotong jatah bajaj atau ojek untuk mencapai rumahnya, 2 km dari jalan utama. Ongkos bajaj/ojek yang dia pangkas senilai Rp 5.000. "Sekarang saya menggantinya dengan jalan kaki. Itung-itung olahragalah. Keringetan juga sih," katanya.Ayu juga mengganti bus yang dinaikinya. Biasanya dia dua kali menumpang bus patas AC bertarif Rp 3.500. Tapi karena bus langganannya sekarang berongkos Rp 4.800, akhirnya dia lebih banyak memilih bus reguler yang tanpa AC, yang tarifnya lebih murah, Rp 2.000.Ny Ria, warga Pondok Gede, Bekasi, juga punya strategi. Ibu dua anak ini kini memangkas anggaran daging sapi dan ayam potong untuk lauk pauk. "Saya menggantinya dengan ikan. Sama-sama bergizi, tapi harganya lebih murah kan," katanya.Perempuan asal Solo ini mengungkapkan, sebelum BBM naik, tiap hari dia cukup berbelanja Rp 10 ribu. "Tapi sekarang Rp 15 ribu saja nggak cukup," keluhnya.Ria juga menurunkan kualitas barang yang dibelinya. "Dulu beras nomor satu, tapi sekarang levelnya di bawahnya, yang penting masih enak," katanya. Sabun cuci juga digantinya dengan yang harganya murah. Dulu beli baju sebulan sekali, sekarang tidak lagi.Tetangga Ria, Ny Rika, bahkan nekat membeli motor dalam rangka berhemat. Biasanya, dia bersama suaminya mengantor dengan menyetir Kijang. Sejak kenaikan BBM, ongkosnya melonjak jadi Rp 50 ribu. Jelas bikin dompet bobol. "Dengan naik motor, biaya transportasi bisa ditekan. Rp 50 ribu bisa buat naik motor 1,5 minggu," kata Ria yang juga ke mana-mana menyetir motor ini.Ny Yumi, warga Pondok Cabe, Tangerang, juga punya taktik. Dia kini lebih mengandalkan suaminya mengantarjemputnya dengan motor. Biasanya, dia mengandalkan ojek."Sekarang kalau berangkat, nunggu suami pulang. Jadi diantar sampai kantor, terus pulangnya nunggu dijemput di gerbang perumahan," kata ibu seorang bocah ini. Sang suami kebetulan bekerja shift malam.Dengan begitu, ongkos yang seharusnya keluar Rp 20 ribu sehari, jadi cuma keluar Rp 5 ribuan. "Lumayan ngiritlah," katanya. Ongkos ojek Rp 5.000 sekali naik, kini ditiadakan."Suami saya kerja malam, nyampe rumah lagi sekitar pukul 08.00 WIB pagi. Capek memang, tapi gimana lagi. Demi menghemat, ya harus mengantar saya lagi," sambung Ny Yumi.Jafari, bapak dua anak warga Parung-Bogor, juga mengencangkan ikat pinggang dengan mengurangi membeli buah-buahan yang rutin dikonsumsinya. "Dulu seminggu sekali saya memborong buah. Tapi sekarang ini sudah dua minggu tidak beli. Harganya lebih mahal dibanding dulu," katanya.Karyawan swasta ini juga mengurangi jalan-jalan keluar rumah bersama keluarga di akhir pekan. "Kalau libur di rumah saja," katanya.Bagaimana strategi penghematan Anda? Ceritakan pada kami di redaksi@staff.detik.com. (nrl/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads