Pedagang Sapi Kurban di Mampang Setuju soal Larangan Berjualan di Trotoar

Audrey Santoso - detikNews
Minggu, 28 Jul 2019 16:45 WIB
Seorang pedagang sapi di daerah Mampang, Jakarta Selatan, Haji M Nur. (Audrey/detikcom).
Jakarta - Seorang pedagang sapi di daerah Mampang, Jakarta Selatan, Haji M Nur (65), setuju dengan larangan berjualan hewan kurban di trotoar. Nur menyadari pejalan kaki dan pengguna jalan akan terganggu jika pedagang memajang hewan jualannya di trotoar.

"Trotoar tempat untuk jalan masyarakat. Kalau kita jual hewan, jelas dilarang. Tapi ada jugalah orang-orang yang masih berjualan. Saya setuju kalau jangan berjualan hewan di jalanan, supaya nggak ganggu masyarakat juga," kata Nur kepada detikcom di lapak hewan kurbannya, di Jalan Mampang Prapatan IX, Jakarta Selatan, Minggu (28/7/2019).

Aturan mengenai larangan berjualan hewan kurban di trotoar tertuang dalam Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 46 Tahun 2019 tentang Pengendalian Penampungan dan Pemotongan Hewan dalam Rangka Idul Adha 2019/1440 H. Peraturan itu menyusun tugas-tugas SKPD dalam memonitor keberlangsungan pelaksanaan kurban.

Nur, yang sudah 15 tahun menjadi pedagang sapi kurban, mengaku selalu rela merogoh kocek lebih dalam untuk menyewa lapak ketimbang berjualan di trotoar. Untuk berjualan tahun ini, Nur membayar sewa lapak berupa lahan kosong sebesar Rp 22 juta untuk sebulan.

"Nggak pernah jualan di trotoar. Selalu sewa lapak Rp 22 juta selama sebulan jualan. Saya optimis ini (sapi-sapi kurban) laku setiap. Setiap tahun laku semua," ujar Nur.

Nur menceritakan sehari-hari dia tinggal di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dia berjualan sapi kurban di Jakarta hanya ketika mendekati hari raya Idul Adha. Sebelum berjualan di Jalan Mampang Prapatan IX, Nur juga pernah membuka lapal di Pramuka, Jakarta Timur; Cibubur; dan Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

"Sapinya sapi Bima dan Bali. Saya asli dari Bima dan setiap Idul Adha ke Jakarta. Tahun ini saya dan teman saya menyediakan 70 ekor sapi Bima dan Bali," jelas Nur.


Sapi-sapi jualan Nur diberangkatkan dengan kapal laut ke Jakarta melalui Pelabuhan Tanjung Priok. Terhitung sudah 15 hari dia berjualan sapi untuk Idul Adha tahun ini.

"Alhamdulillah sudah laku 20 ekor. Saya jual ada Rp 22 juta yang berat 400 kg, Rp 20 juta untuk ukuran sapi yang beratnya kurang dari 400 kg, Rp 18,5 juta paling murah, itu berat 300 kg," terang Nur.

"Untung dari per ekor itu Rp 4 juta, Rp 5 juta. Paling bawah Rp 3,5 juta," imbuh dia.



Simak Juga 'Anies Imbau Pembagian Daging Kurban Tanpa Kantong Plastik':

[Gambas:Video 20detik]

(aud/nvl)