detikNews
2019/07/28 07:23:46 WIB

Round Up

Viral Jual Beli Data e-KTP dan KK Warga Ditelusuri Polisi

Tim detikcom - detikNews
Halaman 1 dari 2
Viral Jual Beli Data e-KTP dan KK Warga Ditelusuri Polisi Foto: Viral data NIK KTP dan KK diperjualbelikan (ist/@hendralm)
Jakarta - Isu jual beli data e-KTP dan kartu keluarga (KK) di media sosial (medsos) sedang ramai diperbincangkan netizen alias warganet. Banyak yang resah karena informasinya data yang tersebar hingga jutaan dan berpotensi disalahgunakan untuk kasus penipuan. Polisi pun menelusuri kasus ini.

Kasus ini pertama kali diangkat oleh Hendra Hendrawan (23) lewat akun Twitternya @hendralm. Dia mengaku kaget bagaimana bisa data nomor induk kependudukan (NIK) di e-KTP juga data KK warga bebas diperjualbelikan di medsos.

"Ternyata ada ya yang memperjual belikan data NIK + KK. Dan parahnya lagi ada yang punya sampe jutaan data. Gila gila gila," cuit Hendra. Per pukul 12.23 WIB cuitannya itu telah diretweet lebih dari 21 ribu kali oleh netizen," cuit Hendra.

Hendra menceritakan, awalnya ada seorang rekannya ditipu anggota yang bergabung dalam sebuah grup Facebook. Dia pun iseng-iseng bergabung ke grup tersebut. "Ternyata di sana banyak transaksi jual beli KTP dan KK, juga foto selfie sama KTP," katanya saat dihubungi lewat telepon, Sabtu (27/7/2019).


Di sejumlah cuitannya Hendra menyertakan screenshoot atau tangkapan layar adanya transaksi jual beli data NIK e-KTP dan juga KK. Hendra lantas penasaran untuk apa ada orang mencari data NIK e-KTP, KK hingga foto orang selfie dengan KTP. Menurutnya ternyata itu dipergunakan untuk sejumlah hal, termasuk kejahatan.

"Mereka pergunakan itu buat registrasi nomor HP, daftar paylater, juga kredit online," jelasnya. Hendra mengaku tidak tahu pasti berapa data tersebut dijual. Namun menurutnya ada oknum yang menjual data NIK e-KTP dan KK Rp 5.000 per nama.


Hendra mengaku resah akan adanya kasus ini. Menurutnya sejak mencuitkan persoalan ini di Twitter, dirinya telah dikeluarkan atau diblokir dari grup di Facebook tersebut. Grup itu menurutnya juga sudah berganti nama.

"Harapan saya pemerintah menindaklanjuti kasus ini. Jangan sampai ada korban-korban karena bisa saja menimpa keluarga kita sendiri. Saya bikin thread ini juga supaya orang orang lebih berhati hati dalam memberi informasi data data pribadinya sama orang lain," sambung Hendra yang berstatus mahasiswa.

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com