KPAI Sebut Kasus Kekerasan Seksual Anak Meningkat Akibat Pengaruh Digital

Arief Ikhsanudin - detikNews
Jumat, 26 Jul 2019 17:15 WIB
Foto: Susanto (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menyebut terjadi peningkatan data kekerasan seksual terhadap anak setiap tahun. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut salah satu faktornya yakni pengaruh digital.

"Pertama, faktor pengaruh digital. Ini kan pengaruhnya luar biasa. Dalam sejumlah kasus, anak menjadi korban kekerasan seksual. Pelaku terinspirasi dari konten pornografi yang ada di medsos, internet, HP, dan sebagainya. Ini menunjukkan bahwa pengaruh dunia digital saat ini memang luar biasa," ucap Ketua KPAI Susanto, kepada wartawan di kantor Kementerian Perlindungan Perempuan dan Anak (KPPA), Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (26/7/2019).



Selain itu, Susanto menyebut Indonesia masih minim literasi dalam menggunakan internet. Itu sebabnya sebagian masyarakat mudah terpapar konten negatif dari internet, kemudian anak-anak yang menjadi sasaran kejahatan seksual.

"Dunia digital dinamis, tapi literasi penggunaan di media digital sangat lemah. Itulah mengapa orang banyak terpapar, kemudian anak jadi sasaran kejahatan seksual," ucap Susanto.

Menurut Susanto, meski Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) sudah melakukan pemblokiran konten pornografi, namun hal itu sulit diredam. Sehingga menurutnya perlu upaya besar untuk menggerus konten pornografi di internet.

"Sebenarnya, dari sisi bloking, Kominfo sudah banyak, ribuan sudah di-blok, tapi tumbuhnya konten-konten pornografi juga luar biasa. Artinya butuh effort besar, bukan hanya penyelenggara negara tapi juga kita semua untuk pastikan anak tidak terpapar pornografi," kata Susanto.

Susanto meminta kepada masyarakat khususnya orang tua untuk memperhatikan anak-anaknya. Peran orang tua dinilai penting untuk menjadi pilar proteksi anak dari pornografi.

"Peran lingkungan, orang tua, pengasuh dan guru, semakin bagus perhatian, literasi guru kepada anak semakin baik, insyaallah kasus kekerasan seksual bisa ditekan sedemikian rupa," kata Susanto.



Sebelumnya, LPSK mencatat ada peningkatan kasus kekerasan seksual pada anak yang terjadi sejak 2016 sejumlah 25 kasus, lalu meningkat pada 2017 menjadi 81 kasus, dan puncaknya pada 2018 menjadi 206 kasus. Angka tersebut, kata Edwin, terus bertambah setiap tahun.

Kenaikan juga terjadi pada permohonan perlindungan dan bantuan hukum tindak pidana kekerasan seksual pada anak. Menurutnya, pada 2016, ada 35 korban, lalu meningkat pada 2017 sejumlah 70 korban, dan sebanyak 149 korban pada 2018.

"Sampai dengan bulan Juni 2019 telah mencapai 78 permohonan terhadap kasus kekerasan seksual terhadap anak," ungkap Wakil Ketua LPSK Achmadi, di kantornya, Jakarta Timur, Rabu (24/7). (idn/idn)