detikNews
Jumat 26 Juli 2019, 07:55 WIB

Diplomasi-diplomasi Jamuan Makan yang Berujung Perdamaian

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Diplomasi-diplomasi Jamuan Makan yang Berujung Perdamaian Foto: Prabowo dijamu oleh Megawati (Dok. PDIP/Istimewa)
Jakarta - "Saya sering mengatakan bahwa jika politik terpecah, maka meja itu menyatukan orang-orang,"

Ucapan itu dilontarkan oleh Desainer Makanan Terkenal dan Pendiri the Club des Chefs des Chefs, Gilles Bragard. Melalui perkataannya, Bragard ingin menggambarkan bahwa jamuan makanan di atas meja bisa mencairkan ketegangan politik antara para pemimpin dunia. Dia bahkan menceritakan, pada masa Napoleon Bonaparte makanan yang enak bisa melahirkan kesepakatan-kesepakatan yang baik.

Cara ini pula yang dipakai oleh Ketum PDIP Megawati Sukarnoputri ketika menjamu Ketum Gerindra Prabowo Subianto di kediamannya, di Jalan Teuku Umar No. 27A, Menteng, Jakarta, Rabu (24/7). Beberapa menu jamuan tersaji di atas meja, beberapa di antaranya seperti bakwan jagung hingga es kelapa muda.

Namun yang paling ampuh ialah nasi goreng spesial buatan Megawati. Menurut Mega, nasi goreng buatannya ini merupakan bagian dari politik nasi goreng.

"Untunglah kalau seorang perempuan pemimpin dan politisi rupanya ada bagian yang sangat mudah meluluhkan hati laki-laki. Nah, itu namanya politik nasi goreng yang ternyata ampuh," ucapnya.

'Keampuhan' politik nasi goreng itu terjewantahkan dalam momen keakraban kedua tokoh nasional ini. Megawati dan Prabowo pun sepakat harus rukun meski berbeda pilihan.

"Saya bilang pada beliau, Mas, saya panggil beliau itu Mas dari dulu, sebenarnya kan kalau kita berbeda pendapat itu adalah sebuah ruang yang biasa, kenapa harus diterus-teruskan. Mari kita rukun kembali menjalin persahabatan kita untuk kepentingan bangsa dan negara," kata Megawati.

Narasi jamuan makanan Megawati untuk Prabowo ini merupakan bagian dari tema rekonsiliasi pasca Pilpres 2019. Cara ini ialah bagian dari upaya memangkas sekat kompetisi yang pernah tercipta.


Sebagaimana dikutip dari nationsandstates, diplomasi jamuan makanan memang bagian dari diplomasi yang baik untuk menjembatani komunikasi di antara pemimpin dunia. Diplomasi ini bisa melahirkan deal-deal politik soal isu keamanan hingga isu ekonomi. Beberapa pemimpin negara pun pernah menjajal alat diplomasi ini.

Barack Obama-Dmitry Medvev: Burger Cheese

Sebagaimana dikutip dari Time pada 24 Juni 2010, Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama pernah memakai alat diplomasi saat menjamu Presiden Rusia Dmitry Medvedev. Kala itu, Obama mengajak Dmitry untuk mampir makan siang bersama di Ray's Hell Burger di Arlington. Mereka memesan burger cheese dengan acar dan selada khusus.

Meskipun, jamuan makanannya hanya fastfood, tapi isi obrolan mereka terbilang serius. Seperti dilansir dari AFP, Mereka berbicara tentang negoisasi soal pelucutan nuklir hingga masalah ekspor unggas AS ke Rusia.
Diplomasi-diplomasi Jamuan Makan yang Berujung PerdamaianFoto: (MANDEL NGAN / AFP/Getty Images


"Kami mendengarkan satu sama lain dan kami berbicara dengan jujur. Dengan ukuran apa pun, kami telah membuat kemajuan yang signifikan dan mencapai hasil nyata," kata Obama.

Kim Jong Un-Moon Jae In: Salad Gurita hingga Kue Beras

Ternyata, diplomasi jamuan makanan juga bisa menciptakan perdamaian dunia. Hal inilah yang terjadi dalam pertemuan sejarah antara Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un pada 27 April 2018 di Istana Kepresidenan Korsel, Cheongwadae.

Sebagaimana dilansir dari CNN, para tamu dijamu dengan berbagai menu, baik dari Korut maupun Korsel. Beberapa di antaranya, yakni Pyongyang Naengmyun (mie dingin khas Pyongyang), salad gurita dingin, Roti Kentang Swiss khas Korsel, Bibimbap hingga kue beras.

Hasilnya, Korut dan Korsel sepakat untuk membuat 9 poin yang dinamai sebagai Deklarasi Panmunjeon. Isi dari kesepakatan itu di antaranya ialah mengakhiri perang Korea yang telah ditangguhkan sejak gencatan senjata tahun 1953.

Donald Trump- Shinzo Abe: Burger Daging Sapi Amerika

Tak hanya Obama, Presiden AS Donald Trump juga pernah memakai diplomasi sajian makan ini ketika bertemu Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe. Trump memakainya untuk bernegoisasi terkait hubungan dagang AS-Jepang.
Diplomasi-diplomasi Jamuan Makan yang Berujung PerdamaianFoto: Cabinet Public Relations Office/HANDOUT via Reuters


Seperti dilansir Rueters, Minggu (26/5/2019), Trump disebut tidak senang dengan surplus neraca perdagangan Jepang yang tinggi. Sehingga, dia mempertimbangkan untuk menaikkan tarif tinggi pada ekspor mobil, apabila perjanjian perdagangan bilateral tak menemui kata sepakat. Seperti diketahui AS dan China saat ini sedang terlibat dalam perang dagang yang telang menggempur pasar keuangan dunia.

Untuk menyampaikan pesan itu, burger keju yang terbuat dari daging sapi impor AS juga disajikan secara khusus untuk menu makan siang mereka usai bermain golf. Kementerian Luar Negeri Jepang menyatakan dalam pernyataan tertulisnya, Abe dan Trump terlibat dalam diskusi yang bersahabat dan nyaman.


Simak Video "Lewat Politik Nasi Goreng, Mega-Prabowo Sepakat Rukun"

[Gambas:Video 20detik]

Diplomasi-diplomasi Jamuan Makan yang Berujung Perdamaian

(rdp/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com