detikNews
Kamis 25 Juli 2019, 17:33 WIB

Begini Pandangan Istana soal Fenomena Hijrah

Adhi Indra Prasetya - detikNews
Begini Pandangan Istana soal Fenomena Hijrah Deputi V KSP Jaleswari Pramodhawardani dalam diskusi 'Tren Gaya Hidup Hijrah : Peluang atau Ancaman Bagi NKRI'. (Foto: Adhi Indra/detikcom)
Jakarta - Istana memaparkan tiga perubahan yang terjadi di tatanan nasional yang berdampak pada persatuan, kesatuan, dan kedaulatan bangsa Indonesia. Ketiga fenomena tersebut adalah kemunculan generasi milenial, tantangan identitas kebangsaan, dan fenomena hijrah di Indonesia.

Khusus fenomena hijrah, Deputi V Kantor Staf Presiden yang membidangi isu politik, hukum, pertahanan, keamanan dan HAM Jaleswari Pramodhawardani mengutip Surat Al Baqarah ayat 218. Tidak lupa, perempuan yang disapa Dani itu menjabarkan pengertian hijrah berdasarkan hadis riwayat (HR) Bukhari lewat teks yang dibacakannya.


"Kata hijrah muncul di surat Al-Baqarah ayat 218 yang artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman, (dan) orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharap ramhat Allah. Dan Allah Maha Pengampun (lagi) Maha Penyayang," kata Dani.

Hal ini disampaikan Dani dalam diskusi 'Tren Gaya Hidup Hijrah: Peluang atau Ancaman Bagi NKRI' di Hotel Ibis Tamarin, Jalan KH Wahid Hasyim, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (25/7/2019). Hadir pula dalam diskusi ini yakni Pengamat Terorisme dan Radikalisme Ridlwan Habib, Managing Director Paramadina Public Policy Institute Amhad Khoirul Umam, dan Sekretaris PP Pemuda Muhammadiyah David Krisna Alka.

"Dijabarkan juga dalam hadis riwayat Bukhari yang menyebutkan bahwa semua perbuatan tergantung niatnya. Dan balasan bagi tiap-tiap orang bergantung apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya pada Allah dan Rasul-Nya," papar Dani.


Sehingga, kata Dani, hijrah memiliki definisi berpindah dari perilaku buruk ke perilaku yang baik dan didasarkan pada keinginan menjalankan ketaatan kepada Allah SWT. Namun menurutnya, ada yang berpandangan negatif mengenai fenomena hijrah.

"Secara negatif, fenomena hijrah dimaknai sebagai legitimasi atas hal -hal yang sifatnya merugikan orang lain. Misalnya landasan untuk menjalankan aksi terorisme serta memilih jalan hidup berjuang untuk ideologi radikal. Berbagai studi kasus WNI sukarela meninggalkan Indonesia dan memilih membaiatkan diri kepada organisasi radikal, seperti ISIS," ujar Dani.

Bagaimana Memaknai Fenomena Hijrah?

Dani kembali mengutip pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengenai seruan berhijrah. Yang pasti, konsep hijrah yang dimaksud untuk bertujuan ke perilaku yang lebih baik.

"Berulang kali Presiden Joko Widodo mengingatkan bahwa hijrah harus dimaknai dan diisi dengan artikulasi yang bersifat positif. Presiden Joko Widodo pada pidatonya tahun 2018 lalu menegaskan bahwa kita semua harus hijrah dari pesimisme ke optimisme, dari perilaku konsumtif ke produktif, yang marah-marah hijrah jadi sabar-sabar tapi tetap kerja keras, terakhir hijrah dari individualistik ke kolaborasi," papar Dani.


Apakah hijrah menjadi ancaman atau justru menjadi potensi untuk NKRI? Dani memberikan pandangannya.

"Dinamika sejarah pemaknaan hijrah memang mengalami pergumulan, dan dalam hal penguasaan narasi ke publik, terutama di kelompok muda, sangat intens. Secara umum, pemaknaan ini lebih positif sebagai bagian mekanisme masyarakat untuk mengembalikan nilai nilai baik dalam masyarakat. Ancaman dan potensi akan tergantung bagaimana kita merebut makna dan menghasilkan implementasi hijrah tersebut," jelasnya.

Dani menambahkan, gaya hidup hijrah merupakan peluang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi syariah. Dani mengatakan, Indonesia berpotensi menjadi negara yang hijrah menuju 'Indonesia Emas 2045'.


"Sekarang pilihannya ada pada kita, apakah kita akan menambah kecepatan hijrah negara kita dengan mengisinya lewat kolaborasi sesama generasi muda dan lintas generasi dan karya-karya positifnya, ataukah kita ingin bergerak mundur dengan memaknai hijrah sebagai momentum menyalakan romantisme dengan organisasi radikal dan ideologi transnasional?" ujar Dani.

"Saya rasa kita sepakat bahwa kita harus hijrah maju menuju bangsa optimis, bukan menuju zaman jahiliyah," pungkas Dani.


Simak Juga 'Rekonsiliasi dan Masa Depan Visi Politik Jokowi':

[Gambas:Video 20detik]



Begini Pandangan Istana soal Fenomena Hijrah

(dkp/fjp)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com