detikNews
Kamis 25 Juli 2019, 15:24 WIB

Cerita Pemadam Karhutla: Lost Contact hingga Menginap di Tengah Hutan

Raras Prawitaningrum - detikNews
Cerita Pemadam Karhutla: Lost Contact hingga Menginap di Tengah Hutan Foto: Raras Prawitaningrum/detikcom
Perawang - Masuk ke hutan belantara sudah menjadi 'makanan' sehari-hari regu pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Mereka harus berjibaku memadamkan api hingga tuntas, baik melalui jalur darat atau loncat dari helikopter. Begitu banyak tantangan yang harus dilalui oleh regu pemadam karhutla.

Seperti yang dialami oleh regu pemadam kebakaran karhutla atau Tim Reaksi Cepat dari Asia Pulp and Paper (APP) Sinar Mas. Salah satu anggotanya, Ardi Nata Tarigan (24), menceritakan pengalaman timnya lost contact dengan pusat komando karhutla atau situation room APP Sinar Mas sehingga harus bermalam di tengah hutan.

"Sekitar dua minggu lalu, tim ditugaskan untuk memadamkan api di Kabupaten Bengalis. Tim patroli melihat ada titik api akibat pembakaran lahan warga. Saat itu sudah jam 5 sore dan kami harus memadamkan api sampai tuntas. Sementara helikopter hanya bisa terbang sampai jam 6 karena bahaya kalau terbang malam soal jarak pandangnya. Jadilah kami harus menginap di tengah hutan," kata Ardi.


Ia menceritakan hal tersebut kepada detikcom melakukan kunjungan ke PT Arara Abadi, unit forestry APP Sinar Mas di Riau, Kamis (25/7/2019). Ketika Pemerintah Provinsi Riau menetapkan status siaga darurat karhutla atau saat menemukan titik api, mereka harus sigap mencegah kebakaran di wilayah dan sekitar wilayah konsesi.

"Satu regu bertujuh dan kami tahu kalau tidak mungkin helikopter menjemput kami. Jadi kami menunggu tim distrik menemukan keberadaan via jalur darat," katanya.

Namun keberuntungan tidak berpihak pada Ardi malam itu. Sinyal handphone mati total sehingga tim distrik jalur darat susah menemukan titik keberadaan tim Ardi. Sejak pukul 19.00 hingga 01.00 WIB, tim distrik terus mencari titik keberadaan menggunakan motor karena medan sulit dijangkau dengan mobil, tapi hasilnya nihil. Pukul 02.00 WIB pencarian pun dihentikan.

"Malam itu kami sepakat mematikan handphone karena tak ada sinyal agar besok pagi bisa menghubungi tim situation room," ceritanya.


Setiap anggota Tim Respons Cepat dibekali ransel yang berisi perlengkapan untuk hidup di tengah hutan selama dua hari. Adapun isi ransel tersebut antara lain snack seperti kue dan toti, air mineral, pakaian, sampai kantung tidur.

"Kami makan snack, bikin api unggun, lalu bergantian tidur sampai pagi. Harus ada yang jaga saat beristirahat karena waspada binatang buas. Harus menyalakan api unggun juga supaya binatang buas enggak mendekat. Paginya langsung kami nyalakan handphone dan saya memanjat pohon akasia yang tingginya sekitar dua meter untuk mendapatkan sinyal. Akhirnya bisa contact lagi dan dijemput," katanya.

Walaupun sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu, Ardi mengaku tetap khawatir. "Rasa deg-degan tetap ada, tapi tetap harus berpikir jernih supaya bisa selamat. Berdoa saja saat malam itu," ungkap Ardi.

Cerita Pemadam Karhutla: Lost Contact hingga Menginap di Tengah HutanArdi Nata Tarigan (24). Foto: Raras Prawitaningrum/detikcom

Hingga akhir 2018, APP Sinar Mas telah berhasil menurunkan angka kebakaran hutan hingga mendekati target zero fire pada periode berjalan. Kini hanya 0,07% dari seluruh area konsesi pemasok APP Sinar Mas yang terdampak api akibat kebakaran.

APP Sinar Mas telah memiliki lebih dari 3.000 personel regu pemadam kebakaran ulang yang telah tersertifikasi Manggala Agni, 506 pos pantau, 102 menara api, lebih dari 1.000 pompa air, 138 truk pemadam kebakaran, 608 kendaraan patroli, 10 helikopter water booming, dan sistem deteksi dini di situation room yang mampu mengidentifikasi kebakaran lebih awal.
(prf/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com