Polda Jambi Jelaskan Pemicu Anggota TNI-Polri Dikeroyok Saat Patroli Karhutla

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Kamis, 25 Jul 2019 14:40 WIB
Ilustrasi Polda Jambi menangkap tersangka. (Nanang Mairiadi/Antara Jambi)
Jakarta - Polda Jambi memberikan penjelasan terkait awal mula kasus penganiayaan terhadap tim Satgas Karhutla oleh kelompok Serikat Mandiri Batanghari (SMB). Pengeroyokan anggota TNI dan Polri itu diduga terkait penguasaan lahan oleh kelompok SMB.

Dirkrimum Polda Jambi Kombes Edi Faryadi mengatakan jumlah tersangka kasus perusakan PT WKS dan penganiayaan anggota TNI-Polri ini terus bertambah. Jumlah tersangka kini mencapai 59 orang.

"Awalnya hanya 41 orang tersangka. Kita lakukan pengembangan bertambah 18 orang lagi. Totalnya menjadi 59 orang tersangka," kata Edi kepada detikcom, Kamis (25/7/2019).


Edi menjelaskan, semua tersangka pengeroyokan anggota Satgas Karhutla ini ditahan di Polda Jambi. Mereka ini merupakan kelompok Serikat Mandiri Batanghari (SMB) di bawah pimpinan Muslim.

Menurut Edi, pengeroyokan ini anggota Satgas Karhuta terdiri atas TNI dan Polri terkait soal penguasaan lahan ilegal oleh kelompok SMB. Pentolannya adalah Muslim, warga asal Lampung.

"Jadi mereka menguasai lahan konsesi HTI PT WKS. Status lahan milik negara ini dikuasai kelompok SMB," kata mantan Wadir Reskrimsus Polda Riau itu.


Masih menurut Edi, penguasaan lahan negara yang dikelola perusahaan ini awalnya dikelola Muslim cs. Muslim inilah yang lantas menjual lahan negara kepada warga lainnya.

"Ada warga Palembang, Medan, Padang, dan Lampung. Jadi Muslim inilah yang menjuali lahan tersebut. Mereka menebangi pohon di wilayah konsesi perusahaan secara ilegal," kata Edi.

Secara umum, menurut Edi, kelompok Muslim cs ini adalah warga pendatang. Penguasaan lahan secara ilegal, sambung Edi, membuat mereka tidak mau diganggu oleh siapa pun.

"Saat Satgas Karhutla bertugas dan mendekati lahan yang dikuasai, mereka marah. Mereka merasa terusik atas kedatangan tim ke lokasi," kata Edi.

Muslim cs tidak senang dengan kedatangan Satgas Karhutla. Awalnya mereka hanya akan mengusir agar tim menjauh dari lahan yang mereka kuasai secara ilegal.

"Tapi rupanya mereka beringas melakukan penganiayaan terhadap anggota TNI dan Polri. Tak hanya itu, mereka juga mengusir para karyawan PT WKS yang berada di komplek perumahan perusahaan," kata Edi.

Muslim diduga menjadi otak dari penjualan lahan milik negara tersebut. Warga dari luar membayar kepada Muslim untuk membeli tanah untuk perkebunan.

"Lantas seenaknya saja Muslim menunjuk lahan yang dijualnya tadi yang merupakan kawasan konsesi perusahaan. Lahan ini statusnya milik negara," kata Edi.

Dalam kasus penganiayaan ini, Polda Jambi telah mengamankan barang bukti 5 pucuk senjata apa rakitan. Ada lagi 50 senjata tajam yang disita dari para tersangka.

"Kita masih mengembangkan kasus ini," tutup Edi. (cha/knv)