detikNews
Rabu 24 Juli 2019, 22:39 WIB

BPBD Bali: Isu Gelombang Tinggi Porak-porandakan Pura di Pantai Nusa Dua Hoax

Aditya Mardiastuti - detikNews
BPBD Bali: Isu Gelombang Tinggi Porak-porandakan Pura di Pantai Nusa Dua Hoax Kawasan DTW Water Blow Nusa Dua, Bali, terkini. (Foto: dok. BPBD Bali)
Denpasar - Pascagempa siang tadi, beredar video melalui grup WhatsApp yang menyebut gelombang tinggi di pesisir selatan mengakibatkan Pura Bias Tugel, Bali, porak-poranda. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali memastikan informasi itu hoax.

"Menyikapi video viral tentang gelombang tinggi di pesisir selatan, mulai Jawa sampai Nusa Dua, dan dalam video dijelaskan Pura Bias Tugel porak-poranda, kami jawab tegas bahwa itu tidak benar kejadian hari ini, Rabu (24/7). Video tersebut adalah rekaman tahun lalu, tepatnya tanggal 27 Juni 2018, bukan hari ini," kata Kepala Pelaksana BPDB Bali Made Rentin kepada wartawan di Denpasar, Bali, Rabu (24/7/2019).


Video yang beredar itu menampilkan sejumlah gambar kerusakan di kawasan pantai Jawa-Bali akibat gelombang tinggi. Selain itu, ada tayangan sejumlah bangunan pura rusak akibat diterjang gelombang tinggi.

Selain kabar Pura Bias Tugel, diberitakan juga kawasan daya tarik wisata (DTW) Water Blow di Pulau Peninsula rusak. Rentin memastikan kabar itu tidak benar.

"Demikian juga DTW Water Blow di Pulau Peninsula, The Nusa Dua-Managed by ITDC, saat ini kondisinya aman terkendali," terangnya.

Rentin mengatakan pihaknya telah meminta klarifikasi kepada Kepala Divisi Operasi The Nusa Dua I Made Pari Wijaya. Menurutnya, video itu diambil tahun lalu, bukan pascagempa siang tadi.

"Bahkan Made Pari menjelaskan, ia langsung menugaskan dua orang sekuriti yang sedang bertugas malam ini untuk mengecek ke TKP, dan diperoleh laporan bahwa kondisi aman terkendali, dari pagi hingga malam ini tidak ada terjangan gelombang tinggi, dan semua bangunan, termasuk pura, masih berdiri kokoh," terangnya.


Dia pun mengimbau masyarakat agar menyaring berita yang beredar pascabencana. Dia meminta masyarakat tidak reaktif untuk membagikan informasi yang belum dipastikan keabsahannya.

"Kami mengimbau kita semua agar cerdas dalam menyimak berita di media sosial maupun yang tersebar di dunia maya. Kemajuan IT mestinya diimbangi dengan kecerdasan dalam menelaah pemberitaan," ucap Rentin.

"Hoax bisa meresahkan masyarakat, apalagi Bali sebagai destinasi utama pariwisata sangat terpengaruh oleh pemberitaan seperti ini, karena faktor keamanan (security) dan kenyamanan (safety) menjadi faktor utama dalam dunia pariwisata. Pilah, cross-check dan recheck again sebelum kita nge-share suatu berita, apalagi berita yang berkaitan dengan kebencanaan," pesannya.
(ams/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed