Faisal Basri: Jaring 10 Juta NPWP Dagelan Apa Lagi?
Jumat, 14 Okt 2005 19:49 WIB
Jakarta - Langkah Ditjen Pajak meraih 10 Juta NPWP pada 19 Oktober mendatang dipandang sinis. Ekonom Faisal Basri menilai, meraih sisa 6,5 juta NPWP dalam waktu 1 bulan tidak bisa sunguh-sungguh meningkatkan objek pajak."Jadi ini dagelan dari mana lagi. Apa sih yang ingin dia cari," kata Faisal saat ditemui dalam acara temu usaha dengan KPPU di Hotel Le Meridien, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (14/10/2005).Ia mengibaratkan langkah Ditjen Pajak tersebut seperti bedug atau gendang. "Di satu sisi 3,5 juta ditutup, di sisi lain 6,5 juta ditutup. Artinya tengah-tengahnya kosong," cetus Faisal. Ekonom UI ini pesimistis jumlah wajib pajak (WP) bisa bertambah 6,5 juta NPWP dalam 1 bulan. "Padahal kemampuan birokasi untuk meregistrasi dan mengirimkan NPWP itu sangat terbatas," tegasnya.Mengenai rencana penyerahan 10 juta NPWP oleh Presiden SBY, Faisal justu menilai langkah itu sebagai upaya agar Ditjen Pajak bisa langsung di bawah kekuasan Presiden, bukan Depkeu."Nah itu tujuannya, menciptakan event di depan presiden bahwa aparat pajak itu besar jumlahnya dan sudah terlalu sempit berada di bawah Depkeu. Arahnya dia berharap agar Dirjen Pajak itu di bawah presiden saja. Terus, angkat saya sebagai menteri pak," imbuh ekonom yang pernah berseteru dengan Dirjen Pajak ini.Ia menilai, mengejar target 10 juta NPWP justru akan membuat kinerja Ditjen Pajak serampangan. "Sepuluh juta NPWP itu hanya di atas kertas saja. Jumlah seperti itu nanti bisa-bisa pembantu rumah tangga saya dapat NPWP. Kan norak," cetusnya.Mengenai besarnya setoran pajak sebesar Rp 302 triliun, Faisal menegaskan, angka tersebut sebenarnya masih bisa bertambah lagi. "Saya bisa tambah Rp 100 triliun lagi," ujarnya.Faisal tetap bersikukuh menuding Ditjen Pajak sebagai salah satu institusi yang paling korup. "Nggak usah pakai bukti, nggak usah takut deh," tandasnya.
(qom/)











































