Arifin Ilham Sebut 'Ayahanda Ustad Abu Bakar Ba'asyir'
Selasa, 18 Okt 2005 14:47 WIB
Jakarta - Persahabatan Ustad Arifin Ilham dengan Ustad Abu Bakar Ba'asyir tampaknya memang lengket. Hari ini, untuk ketiga kalinya Arifin mengunjungi Ba'asyir. Dia menyebut Ba'asyir dengan 'ayahanda tercinta'. Dua mubalig berpengaruh ini bertemu hampir dua jam di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang, Jakarta Timur, Selasa (18/10/2005). Arifin datang ke LP Cipinang sekitar pukul 12.00 WIB dan baru keluar dari LP sekitar pukul 13.45 WIB. Arifin datang dengan menumpang mobil Toyota Lexus. Tidak sendiri. Da'i muda yang mengenakan pakaian serba putih dan berpeci putih ini datang bersama sekitar 15 orang yang juga mengenakan pakaian serba putih. Setelah keluar dari LP, Arifin mengaku datang ke LP untuk berdakwah. "Prioritas dakwah kita di antaranya ya di sini. Kita berdakwah dan menyatakan bahwa dari kita itu bersalah. Karena berdakwah itu bukan tidak pernah salah, tapi kembali bertaubat," ujar dia.Selain berdakwah kepada para napi, kata Arifin, dirinya juga mengunjungi Ba'asyir. "Maksud lain adalah untuk silaturahmi kepada ayahanda tercinta Ustad Abu Bakar Ba'asyir," kata Arifin Ilham. Sel Ba'asyir Penuh BukuArifin menceritakan, dia sempat berbincang-bincang dengan ustad sepuh yang dipenjara karena dipersalahkan oleh pengadilan terlibat terorisme itu. Menurut ustad yang terkenal dengan majelis zikirnya ini, Ba'asyir menganggap tidak ada masalah di LP. "Beliau justru merasa senang karena banyak waktu luang untuk menulis karya-karyanya. Dan nanti buku itu akan diterbitkan. Saya sempat masuk ke kamarnya dan di sana banyak buku yang dibaca beliau," ujar dia. Arifin sangat terkesan dengan pribadi Ba'asyir. Apa yang dialami Ba'asyir sebagai ujian terhadap para wali Allah. "Sesungguhnya wali-wali (penolong) Allah itu tidak takut kepada apa yang akan terjadi, tidak bersedih dengan apa yang telah terjadi. Menjalankan keimanan adalah ketenangan. Semuanya atas kekuatan Allah, seperti tercantum dalam surat Yunus ayat 62," tegas pemimpin majelis zikir Az-Zikra ini. Di mata Arifin, Ba'asyir merupakan orang yang dizalimi. Ba'asyir dipenjara bukan karena bersalah. "Beliau dizalimi oleh intrik-intrik dan propaganda politik. Doa orang yang dizalimi itu sangat mustajab," ungkap dia. Meski dizalimi, ungkap Arifin, Ba'asyir akan terus berjuang, karena ini takdir Allah. Kezaliman harus dilawan dengan yang haq (benar). "Beliau tidak setuju dengan cara-cara bom seperti yang terjadi di negeri ini. Sekali lagi, beliau tidak suka cara-cara seperti itu yang mengatasnamakan Islam," tegas Arifin. Saat ditanya apakah dirinya juga membahas tentang protes Australia atas pemberian remisi terhadap Ba'asyir, Arifin membantahnya. "Kita tidak membicarakan itu. Kita hanya sekadar berdakwah. Kedatangan saya ke sini juga momentum bulan ukhuwah, karena kita kehilangan kekuatan untuk bersatu. Jadi kiai bukan hanya aksi debat di mimbar, tapi harus merangkul yang lain dan bersatu," kata dia.Arifin juga mengaku kondisi fisik Ba'asyir tetap sehat. "Ini yang ketiga kalinya saya ke sini," ujar dia.
(asy/)











































