Ribuan Obat Bantuan Tsunami di Medan Terancam Diselewengkan
Senin, 17 Okt 2005 21:54 WIB
Medan -
Ribuan obat-obatan untuk korban bencana gempa bumi dan tsunami akhir tahun lalu masih menumpuk di RSU dr Pringadi Medan. Namun muncul indikasi obat itu diselewengkan untuk kepentingan komersil.Hingga Senin (17/10/2005), obat-obatan itu masih tersimpan dalam jumlah yang banyak di gudang obat yang berada di lantai tiga rumah sakit umum yang berada di Jalan HM Yamin Medan.Dari tulisan yang berada pada kotak-kotak tersebut diketahui obat-obatan itu antara lain berasal dari sejumlah negara donor seperti Malaysia dan Thailand.Obat-obatan itu, tiba di RSU Pirngadi sejak Februari 2005, namun sejak beberapa bulan lalu sudah tidak dipergunakan lagi karena pasien korban tsunami yang dirujuk ke rumah sakit milik Pemkot edan ini sudah tidak ada lagi. Itu sebabnya obat-obatan itu bertumpuk di gudang.Namun sejak Agustus lalu, diketahui, pihak rumah sakit mulai memanfaatkan obat bantuan untuk korban tsunami tersebut kepada sejumlah pasien lain. Ada indikasi obat-obatan itu dijual dengan harga murah kepada pasien yang membutuhkan. Namun pihak rumah sakit tentu saja membantah sinyalemen ini."Obat-obat bantuan untuk tsunami itu memang kami manfaatkan untuk kepentingan lain, yakni membantu pasien miskin. Mereka yang tidak memiliki biaya, dan juga tidak bisa menunjukkan surat miskin, namun kita ketahui dia memang tidak mampu, maka kita bantu dengan menggunakan obat-obatan tersebut," kata Kepala Pelayanan RSU Pirngadi, dr Syahrial R Anas kepada wartawan di Kantor Walikota Medan, Jl Kapten Maulana Lubis, Medan, Senin (17/10/2005).Beberapa jenis obat yang masih bersisa di gudang antara lain, cairan infus sebanyak 1 jenis berjumlah 480 botol, kemudian obat batuk pilek sebanyak 4 jenis sebanyak 4.000 tablet, obat anti hipertensi 1 jenis sebanyak 227 tablet, obat kulit sebanyak 8 jenis berjumlah 2.000 tube salep, obat maag sebanyak 7 jenis berjumlah 7.000 tablet, obat anti rematik sebanyak 7 jenis berjumlah 3.200 dalam bentuk tablet, sirup atau kapsul, kemudian obat muntah sebanyak 2 jenis berjumlah 2.400 tablet.Anas mengaku tidak tahu pasti berapa banyak obat yang tersisa, tetapi ditegaskan bahwa tidak semua obat itu bisa dimanfaatkan, baik karena ada yang sudah kadaluwarsa, maupun karena banyak obat itu sifatnya untuk penanganan tsunami, seperti untuk paru-paru yang kemasukan lumpur, obat untuk patah tulang dan antibiotik. Sebagian yang sudah dipergunakan untuk pasien miskin itu umumnya infus dan antibiotik tadi."Sebenarnya kalau sudah diserahkan kepada kami, tentunya terserah mau diapakan obat itu sepanjang memang dipergunakan untuk kepentingan pasien. Tetapi kalau memang mau ditarik pemerintah pusat terserah saja. Kita tidak ada masalah," kata Syahrial yang menyatakan bahwa dia merupakan orang bertanggung jawab atas pengalihfungsian penggunaan obat-obat bantuan tsunami itu untuk pasien miskin.
(ddn/)










































