SBY Targetkan PT DI Bangkit Lagi dalam 3 Tahun

SBY Targetkan PT DI Bangkit Lagi dalam 3 Tahun

- detikNews
Senin, 17 Okt 2005 16:08 WIB
Jakarta - PT Dirgantara Indonesia (PT DI) yang terancam bangkrut hingga harus melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran terhadap karyawannya diharapkan bisa bangkit lagi dalam 3 tahun ke depan. Harapan itu disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) seperti dikutip Caretaker Direktur PT DI Nuril Fuad usai mendampingi Presiden menerima delegasi dari EADS, perusahaan pembuatan pesawat dari Eropa, di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (17/10/2005). EADS akan menjalin kerjasama dengan PT DI. Di hadapan Presiden, EADS menyampaikan rencana bisnis dengan PT DI antara lain memproduksi pesawat Cassa 212 seri 400. Pesawat itu merupakan versi baru dari pesawat angkut 212 yang selama ini telah diproduksi PT DI dan Cassa Spanyol. Dalam pertemuan dengan EADS, Presiden didampingi Menteri BUMN Sugiharto, KSAU Marsekal Djoko Suyanto dan Ketua BKPM M Luthfi."Presiden mengharapkan PT DI bisa survive (bertahan) dan menarik kembali SDM-nya yang ada di luar negeri untuk kembali membangun bangsa," kata Nuril. Nuril menjelaskan, hingga saat ini tercatat 1.162 orang SDM PT DI yang bekerja di luar negeri. Mereka rat-rata bergelar master dan doktor. Mereka kebanyakan bergabung dengan Boeing AS dan perusahaan pesawat Bombardier Kanada. Eksodus tenaga ahli itu sudah berlangsung sejak PT DI dililit krisis keuangan 7 tahun silam. Untuk mencapai target bangkit kembali dalam 3 tahun, Presiden meminta institusi pemerintahan dan domestik untuk memanfaatkan produk-produk PT DI. Target utamanya adalah jajaran TNI, Polri dan domestik. Pada akhir 2005, PT DI akan menyerahkan sebuah helikopter Bell 412 dan pesawat Cassa 212 ke TNI AD. Kemudian pada Januari 2006 akan menyerahkan sebuah pesawat N-235 pesanan TNI AU. PT DI juga menerima pesanan helikopter Superpuma dari AU dan 6 unit pesawat 212 dari AL. "Kami juga mengirimkan beberapa unit 212 dan N 235 untuk keperluan patroli India, Malaysia, Filipina dan Thailand," kata Nuril. (iy/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads