Bom Bali II Belum Terungkap, Polisi Panik dan Asal Tangkap
Senin, 17 Okt 2005 09:57 WIB
Jakarta - Memasuki hari ke 17 pasca ledakan bom Bali II, polisi belum berhasil mengungkap pelaku bom bunuh diri yang menewaskan sedikitnya 23 orang. Polisi pun tampak panik, dan mempertontonkan kerja asal-asalan. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyak orang yang ditangkap, kemudian dilepaskan lagi karena tidak ada bukti terkait dengan peristiwa bom Bali II."Seharusnya polisi jangan terobsesi untuk mencapai prestasi instan sehingga terkesan asal tangkap. Penangkapan di Bogor, Sukabumi, Serang, Jember, NTB, NTT yang kemudian dilepas kembali memperlihatkan polisi tidak profesional dan panik," ujar Sekretaris Fraksi PPP DPR Lukman Hakiem kepada detikcom, Senin (17/10/2005).Penangkapan terhadap orang-orang yang diduga terlibat pelaku bom Jimbaran dan Kuta Square harus hati-hati karena menimbulkan dampak yang luas. "Jika polisi sudah menangkap seseorang yang diduga terlibat, timbul prasangka buruk terhadap orang tersebut dan keluarganya. Padahal belum tentu benar. Maka polisi harus mengedepankan profesionalisme," lanjutnya.Politisi PPP ini mengaku bersimpati kepada korban dan keluarga asal tangkap. Keluarga Hasan (40), warga Jember yang sempat disebut-sebut salah satu tersangka, keluarga Hudadi, Kuswata dan Saiful dari kelompok Banten, Indra Yoni (27) warga Aik Genit, Desa Senteluk, dan Ahmad Yani (26), warga Kampung Meninting, Desa Montong Buwuh NTB yang ditangkap gara-gara ditemukan KTP miliknya di lokasi ledakan. Terakhir warga Jakarta bernama Djejen Ahmad Djunaedi yang nyaris jadi bulan-bulanan massa di Pulau Rote dan Kupang."Sebaiknya polisi menghentikan cara kerja asal-asalan seperti yang sedang dipertontonkan sekarang ini. Media massa pun jangan melakukan penghukuman sepihak terhadap korban yang belum tentu bersalah. Tegakkan asas praduga tak bersalah," imbuh Lukman.
(jon/)











































