detikNews
Minggu 14 Juli 2019, 23:25 WIB

Dian Fatwa Nilai Cap Anti-Pancasila seperti Narasi Mussolini

Yulida Medistiara - detikNews
Dian Fatwa Nilai Cap Anti-Pancasila seperti Narasi Mussolini Dian Fatwa. (Bil Wahid/detikcom).
FOKUS BERITA: Jokowi-Prabowo Bertemu
Jakarta - Politikus PDIP Charles Honoris menyebut pihak-pihak yang tak suka pertemuan antara Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto adalah kelompok anti-Pancasia. Politikus PAN menyebut pernyataan tersebut tak relevan.

"Terlalu berlebihan dan tidak relevan bila kita ingin membangun demokrasi yang sehat. I would be very careful menggunakan kata 'anti-Pancasila'. Masak ada orang nggak suka langsung dilabel 'anti-Pancasila'," ujar Politikus PAN Dian Fatwa, saat dihubungi, Minggu, (14/7/2019).



Dian menilai tak sepantasnya kata anti-Pancasila itu disematkan pada orang-orang yang tidak suka dengan adanya pertemuan Jokowi-Prabowo. Menurut Dian tiap orang memiliki hak untuk menyukai atau tak suka dengan adanya pertemuan itu sehingga tak perlu dipaksakan.

"It's still a rough time for some people (Itu masih cukup berat untuk beberapa orang), tidak semua orang bisa menerima pertemuan Prabowo dan Jokowi, dan tidak bisa orang dipaksa harus suka. Mereka kan tidak melanggar hukum, tidak juga maling, tidak melakukan tindakan korupsi, tidak melakukan tindakan makar, apanya yang anti-Pancasila? It's a very strong word (itu kata-kata yang sangat kuat), penggunakan diksi tersebut justru akan menimbulkan polarisasi," ungkap Dian.



Ia menyebut cara-cara serupa pernah diterapkan diktator fasis Italia, Benito Mussolini, dalam menumpas mereka yang berbeda. Dian menilai jika narasi yang dibangun seolah-olah bagi yang tak sependapat dinyatakan anti-Pancasila, maka tak akan ada ruang dialog dan saling berkompromi.

"Cara seperti ini pernah dilakukan oleh Benito Mussolini dalam strategi menumpas mereka yang berbeda. Musolini menjalankan rezim totalitarian, 'O con noi o contro di noi'-You're either with us or against us (Anda tidak bersama kami sama dengan Anda melawan kami). Sama juga dengan narasi yang sekarang dibangun, nggak suka berarti anti-Pancasila," tutur Dian.

Sebelumnya, kekecewaan atas pertemuan Presiden Jokowi dan Ketum Gerindra Prabowo Subianto dilontarkan sejumlah pihak. Politikus PDIP Charles Honoris menilai mereka yang tak suka dengan pertemuan itu adalah kelompok anti-Pancasia.

"Rekonsiliasi yang dilakukan Pak Jokowi dan Pak Prabowo adalah bentuk nyata sikap dua negarawan, sehingga patut dicontoh oleh pendukung masing-masing di akar rumput," kata Charles kepada wartawan, Minggu (14/7).



Rekonsiliasi Jokowi-Prabowo, kata Charles, telah melampaui kepentingan politik praktis, seperti keputusan koalisi atau oposisi sekalipun. Mereka, dia melanjutkan, hanya ingin rakyat Indonesia kembali bersatu, tidak ada lagi cebong dan kampret pasca-polarisasi yang tajam dalam Pilpres 2019.

"Oleh karenanya, jika ada pihak-pihak yang tidak suka dengan rekonsiliasi dua negarawan tersebut, berarti mereka anti-Persatuan Indonesia dan anti-Pancasila. Dengan kata lain, mereka hanyalah orang-orang yang ingin dan senang kalau Indonesia rusak dan terus terbelah, agar kepentingan jangka pendek mereka tercapai," ulas Wakil Rakyat dari dapil DKI III.





Simak Video "Anggap Pidato Jokowi Kurang UUD 45, Amien Rais Ajak Duduk Bareng"
[Gambas:Video 20detik]

(yld/dnu)
FOKUS BERITA: Jokowi-Prabowo Bertemu
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com