Kim Jong Il Percayakan Reunifikasi Korea pada Megawati
Sabtu, 15 Okt 2005 09:51 WIB
Jakarta -
Tidak sia-sia rupanya upaya mantan presiden yang juga Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, bertandang jauh-jauh ke Korea Utara. Sekitar pukul 11 siang waktu setempat atau pukul 9 pagi hari Jumat, 14 Oktober 2005, Pemimpin Besar Republik Rakyat Demokratik Korea (RRDK) Marsekal Kim Jong Il menerima Megawati di Wisma Negara Baek Hwa Won, di pinggiran Pyongyang ibukota Korea Utara. Tanda-tanda Megawati akan diterima putra mendiang Presiden Abadi Korea Utara, Marsekal Kim Il Sung itu, sudah dirasakan oleh para staf Kedutaan Besar Republik Indonesia yang ada di Pyongyang dari tata cara penyambutan Megawati dan rombongan sejak tiba di Pyongyang hari Kamis (13 Oktober 2005) lalu. Maklum untuk diketahui keberadaan maupun tempat tinggal Sekjen Partai Pekerja Korea yang juga sekaligus Paglima Tertinggi Tentara Korea itu, sangat misterius untuk diketahui pejabat diplomatik, pejabat Korea Utara apalagi rakyat biasa.Setelah menunggu sekitar 15 menit, tokoh yang banyak dipuja rakyat Korea Utara itu muncul dengan pakaian yang sangat sederhana, terusan celana panjang berwarna coklat khaki. Megawati yang didampingi Kuasa Usaha RI untuk Korea Utara, Bambang Irawan Kromodimulya dan anggota delegasi lainnya diterima hangat oleh Kim Jong Il. Dalam awal sambutannya, Kim masih sempat menanyakan kabar kesehatan suami Megawati, HM Taufiq Kiemas yang terbaring sakit ketika Megawati bertolak berangkat ke Korea Utara."Saya memang memiliki keakraban tersendiri bahkan terbilang seperti layaknya saudara saja mengingat faktor kesejarahan di antara kami. Kebetulan ayah saya dan Kim Jong Il bersahabat karib yaitu Bung Karno dan Marsekal Kim Il Sung. Baik, Kim Il Sung maupun Bung Karno merupakan pencetus ide awal reunifikasi,"tutur Megawati usai diterima Kim Jong Il sebagaimana siaran pers yang diterima detikcom, Sabtu (15/10/2005).Megawati mengakui upaya perdamaian yang telah dilakukannya sejak menjabat Presiden RI hingga sekarang hanyalah melanjutkan ide besar mendiang ayahnya dan sahabat Bung Karno.Kim Jong Il sendiri diakui Megawati sangat menaruh harapan besar terhadap upaya-upayanya dalam meretas reunifikasi kedua negara di Semenanjung Korea. Bahkan kepada Megawati, Kim Jong Il menaruh harapan besar langkah Megawati bisa mencairkan kebekuan perjanjian damai reunifikasi Korea. Apalagi pada tanggal 23-29 Oktober mendatang, Megawati telah didapuk Presiden Korea Selatan Roh Moo hyun untuk segera kembali menyambangi Seoul sekaligus mempertegas hasil kunjungan ke Korea Utara ini."Saya berharap negara-negara besar seperti Cina, Amerika Serikat, Rusia serta Jepang bisa memahami langkah-langkah yang ditempuh Korea Utara dalam mencari format reunifikasi. Biarlah Bangsa Korea menyelesaikan persoalannya sendiri karena saya pribadi hanya mendorong mereka mau duduk dalam satu meja,"tandas putri tertua Bung Karno tersebut.Menurut Staf Khusus Bidang Media dan Pers Megawati, Ari Junaedi, yang ikut dalam rombongan, persoalan senjata nuklir yang diduga dimiliki Korea Utara dianggap Megawati sebagai urusan kedaulatan masing-masing negara."Sangat bias kalau suatu negara melarang negara lain memiliki teknologi nuklir sedangkan negara tersebut nyata-nyata mempunyai senjata nuklir,"ujar Ari Junaedi mengulangi kata-kata Megawati.Terhadap berbagai peristiwa yang menimpa Indonesia, Kim Jong Il yang pernah bertandang ke Indonesia di tahun 1965 mengikuti kunjungan ayahnya Kim Il Sung, mengaku ikut prihatin kepada Megawati. Perkembangan kasus Bom Bali II, berbagai musibah di tanah air rupanya diikuti dengan seksama oleh Kim Jong Il.Kini guliran "bola" reunfikiasi Korea tampaknya berada di tangan Megawati Soekarnoputeri setelah Pemimpin Besar Republik Rakyat Demokratik Korea, Marsekal Kim Jong Il maupun para petinggi politik di Korea Selatan seperti Presiden Roh Moo hyun, pemimpin oposisi Park Ghe Nee serta mantan presiden Kim Dae Jung mempercayai Megawati mencari terobosan baru. Apalagi upaya Amerika Serikat, Rusia, Cina maupun Jepang mendudukkan Korea Utara ke meja perundingan mengalami jalan buntu.Direncanakan Megawati dan anggota delegasi akan bertolak keluar dari Pyongyang menuju Jakarta via Beijing Sabtu ini. Agenda Megawati selanjutnya adalah mengunjungi kota perbatasan Kaesong di wilayah Korea Utara yang dimodali Korea Selatan. Diharapkan Kaesong menjadi kota perdamaian menunggu runtuhnya pagar kawat yang membentang di lintang 38 derajat, yang memisahkan Korea Utara dan Korea Selatan sejak tahun 1953 lalu.
(nrl/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































