Round-Up

Novel Baswedan Menunggu Hasil Signifikan

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 11 Jul 2019 08:15 WIB
Foto: Penyidik KPK, Novel Baswedan. (Ari Saputra-detikcom)
Jakarta - Novel Baswedan, korban penyiraman air keras, berharap motif politik yang disebut tim gabungan bentukan Polri bukan upaya untuk berspekulasi. Novel juga berharap hasil investigasi tim gabungan itu benar-benar signifikan.

"Saya pikir jangan sampai hanya terjadi upaya untuk berspekulasi, siapa aktor intelektual, dalang, koordinator, dan lain-lain tapi melupakan pelaku lapangan," kata Novel di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (10/7/2019).

Novel menilai mengungkap kasus ini harus dimulai dengan menangkap eksekutor atau pelaku di lapangan. Dia mengaku tak mungkin kejahatan jalanan diungkap dari aktor intelektual lebih dulu.

"Mengungkap kejahatan jalanan begini haruslah dimulai dengan pelaku lapangannya. Tidak mungkin ada pengungkapan pelaku kejahatan kekerasan jalanan begini, tapi kemudian hanya dimulai dengan spekulasi aktor intelektual pihak mana pihak mana. Saya kira itu bukan investigasi ya. Itu hanya reka-reka atau duga-dugaan saja dan saya kira itu tidak tepat," ujar Novel.


Dia menyebut pengumuman hasil kerja tim gabungan pekan depan menjadi pertaruhan bagi orang-orang yang ada di dalam tim itu. Novel juga berharap teror terhadap pegawai KPK lainnya juga segera diungkap agar kejadian itu tidak terulang.

"Tentunya minggu depan rilis hasilnya itu seperti apa tentunya ini pertaruhan buat beliau-beliau. Saya berharap hasil yang ditemukan benar-benar signifikan," tuturnya.

Anggota tim gabungan pencari fakta (TGPF) bentukan Polri, Hendardi, menduga kasus ini bermotif politik. Hendardi mengatakan kasus ini bukan perkara biasa.

"Motif saya bilang, bukan orang ya, motif politik. Motif akan kami sajikan. Motif itu bisa tidak cuma satu, bisa beberapa yang kami sampaikan. Kami nggak omong orang," kata Hendardi di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa (9/7).

"(Maksudnya) Novel itu kan orang KPK, ini bisa dilihat ada latar belakang politik. Selama ini dari awal perkara ini kan sudah dilempar terus persoalan untuk Polri harus mengungkap, itu kan artinya kasus ini high profile," imbuh Hendardi.


Tim gabungan bentukan Polri telah memberikan laporan hasil investigasi ke Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Hasil investigasi itu akan diumumkan pekan depan.

"Bagaimana hasilnya itu nanti minggu depan akan kami sampaikan," ujarnya.

Manager Riset Amnesty Internasional Papang Hidayat mempertanyakan hasil investigasi itu tidak langsung diumumkan. Papang membandingkan dengan kasus Munir yang hasil investigasinya diserahkan terlebih dahulu ke Presiden, tapi hingga saat ini tidak dibuka secara terang-terangan.

"Nah ini yang masalah karena kita juga punya pengalaman semacam ini di kasus Munir. Jadi TPF Munir menyerahkan hasilnya ke presiden, tapi presiden nggak buka itu ke publik, itu sampai hari ini sengketa soal laporan TPF Munir harus dibuka, kalau tidak, nggak akan tuntas," ujar Papang di gedung Ombudsman RI, Jakarta Selatan, Rabu (10/7).

Papang pun khawatir hal yang sama berulang pada kasus Novel Baswedan ketika hasil investigasi diberikan terlebih dahulu ke Polri. Dia menegaskan kasus yang menjerat Novel Baswedan harus dibuka kepada publik dan diselesaikan.

"Ini harus transparan. Ini urusan publik, ini demi kemaslahatan orang-orang Indonesia karena korupsi kan kejahatan serius, sama kayak kasus Munir, gerakan hak asasi manusia itu kalau penuntasan Munir-nya nggak tuntas itu berarti mereka masih ada hambatan dalam menjalankan tugas," katanya.

"Kalau hasil TGPF kasus Novel tidak transparan pada publik artinya gerakan antikorupsi juga masih menghadapi lawan-lawan yang kuat jadi tidak ada efek jera bagi orang yang ingin melakukan korupsi," lanjutnya.


Simak Video "Menanti Titik Terang Kasus Novel Baswedan"

[Gambas:Video 20detik]



Simak Video "Novel Baswedan Sebut Pemberantasan Korupsi Dimulai dari Penegak Hukum"
[Gambas:Video 20detik]
(idh/gbr)