"Yang kejadian di Gereja Santo Yoseph kemarin pagi itu, yang kita amankan, kita lakukan interogasi terhadap yang kita amankan tersebut. Pada saat diamankan tersebut dia diam, bengong aja, lalu kita membawa yang kita amankan tadi ke Rumah Sakit Sanglah tadi malam," kata Kapolresta Denpasar Kombes Ruddi Setiawan kepada wartawan di Denpasar, Bali, Rabu (10/7/2019).
"Hasil dari koordinasi awal dengan dokter di Rumah Sakit Sanglah di unit IGD bahwa yang kita amankan itu mengalami depresi akut, di mana pada saat titik kelemahan dia menangis tadi itu artinya bisa lemah itu bisa muncul tiba-tiba. Jadi sekarang yang kita amankan itu dirawat di Rumah Sakit Sanglah," tambahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ruddi mengatakan, dari hasil pemeriksaan, pria tersebut juga diketahui menderita tekanan darah tinggi. Dia menyebut tak ada unsur kesengajaan dari pelaku mengamuk di gereja.
"Jadi dengan kondisi begini memang sakit ya dan dia juga meminum obat tensi tinggi jadi tiba-tiba dia bisa itu. Tidak ada unsur (sengaja), tiba-tiba. Dia ke gereja itu untuk sembahyang dan umat juga," jelasnya.
Selain itu, pria tersebut merupakan umat di Gereja Santo Yoseph Kepundung. Ruddi belum menjawab lugas apakah penyelidikan terhadap kasus perusakan gereja itu bakal dihentikan.
"Kalau kita lihat kondisi fisik itu, pihak gereja juga mengatakan begitu ya," ucap Ruddi.
Sebelum mengamuk pria berinisial A itu sempat berdoa bersama istrinya, Selasa (9/7). Tiba-tiba di tengah doanya, pria itu menitikkan air mata dan langsung mengambil penyanggah salib di depan altar.
Akibatnya, sejumlah peralatan ekaristi rusak, seperti penyangga salib, meja Alkitab, mikrofon, dan pot bunga. Ruddi pun mengapresiasi umat gereja tetap menjaga suasana kondusif.
"Saya ucapkan terima kasih ke umat gereja situasi kondusif," tuturnya.
(ams/zak)











































