Menteri, Jenderal, BUMN, dan Universitas Jadi Korban

Money Game Ala Pembalap (3)

Menteri, Jenderal, BUMN, dan Universitas Jadi Korban

- detikNews
Jumat, 14 Okt 2005 16:00 WIB
Bandung - Sungguh bejibun para investor yang menjadi korban bisnis ala pembalap nasional, Dedi Hanurawan. Para korban memiliki latar belakang yang beragam. Ada BUMN, jenderal, bahkan menteri. Warga biasa yang berduit banyak, apalagi. Bisnis Dedi Hanurawan dengan bendera PT Cita Hidayat Komunikaputra memang diminati para calon korban pada tahun 2001-2003. Dedi menawarkan keuntungan 15-20 persen per bulan dari investasi yang ditanam para investor. Bisnis bergerak di bidang penjualan BBM, oli berbagai merek, dan SPBU. Para investor berdatangan dengan menggelontorkan investasinya miliaran rupiah. Namun, awal 2004, bisnis Dedi ini terlihat belangnya. Pembayaran keuntungan terhadap investor seret. Bahkan, awal tahun 2005, sudah tidak ada lagi kucuran keuntungan kepada para investor. Investor mulai resah, uangnya tak kembali. Dan akhirnya, bisnis ini pun berujung pada proses hukum. Dedi telah ditahan Polwiltabes Bandung sejak Senin (29/9/2005). Informasi yang didapatkan detikcom, banyak sekali investor yang tergiur iming-iming Dedi. Banyak BUMN yang menyimpan uangnya di bisnis Dedi agar beranak-pinak. Antara lain PT Pos Indonesia, Kimia Farma, Bio Farma, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan masih banyak yang lain. Ada juga lembaga lain seperti IAIN Bandung, Unpad, Pesantren di Garut, dan lain-lain. Seorang investor, Teguh (bukan nama sebenarnya) juga mengungkapkan banyak pejabat yang menginvestasikan uang di bisnis Dedi. Antara lain mantan Wakapolda Jabar, pejabat di Mabes TNI, Dirut PT Pos Indonesia, pejabat Kimia Farma, dan Menteri Dalam Negeri M. Ma'ruf. Menurut Teguh, perusahaan Dedi berada di atas angin ketika perusahaan-perusahaan BUMN mulai masuk untuk menanamkan modal. Lonjakan keuntungan terasa ketika perusahaan ini mulai disuntik oleh perusahaan milik pemerintah tersebut. Bahkan, asetnya bisa mencapai Rp 800 miliar. "Yang saya kasihan adalah dari PT DI dan PT Pos itu. Itu otomatis milik karyawan. Uang pensiun itu masuk. SK Karyawan mereka digadaikan pada perusahaan ini," ungkap Teguh yang mengaku tahu secara persis. Teguh menduga bisnis yang dijalankan Dedi ini money game. "Yang saya takutkan dari bisnis ini adalah yang benarnya sedikit. Sisanya adalah money game. Awal perusahaan ini baik. Saya tidak melihat ada skandal. Tapi ketika tahun 2004, masa ketika pergantian presiden muncul, mulai bermasalah," kata Teguh kepada detikcom di Gedung Pertemuan Kolam Renang Karang Setra, Jalan Karang Setra, Bandung, Kamis (13/10/2005) . Namun, Teguh yakin uang para investor yang diinvestasikan kepada Dedi tidak lari ke urusan politik. "Kita masih dibingungkan dengan pengakuan Dedi Hanurawan. Uang itu lari ke mana dan disimpan di mana kita tidak tahu," ungkap investor yang pada 2002 lalu menginvestasikan uangnya Rp 4 miliar lebih ini. (asy/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads