Money Game Ala Pembalap (2)
Satu Investor Setor Rp 4 Miliar
Jumat, 14 Okt 2005 11:57 WIB
Bandung - Bisnis yang dikreasi oleh pembalap nasional Dedi Hanurawan memang luar biasa. Para investor dengan mudahnya menyetor uangnya ke Dedi. Seorang investor bisa menyetor hingga Rp 4 miliar. Ckk..ckk! Investor yang tergoda dengan bisnis menggiurkan ini akhirnya tertipu. Bisnis yang dijalankan Dedi mirip dengan usaha yang dijalankan PT Qurnia Subur Alam Raya (QSAR) di Sukabumi yang akhirnya bermasalah. Sistemnya pun sama. Dedi menjanjikan keuntungan 10 hingga 15 persen dari investasi yang ditanamkan tiap bulan. Investor yang menanamkan modalnya ke perusahaan Dedi, PT Cita Hidayat Komunikaputra, bukan orang ecek-ecek. Mereka semua berduit besar. Banyak para investor yang menyetor hingga miliaran rupiah. Salah satunya, Teguh (bukan nama sebenarnya). Teguh yang ditemui detikcom di Gedung Pertemuan Kolam Renang Karang Setra, Jalan Karang Setra, Bandung, Kamis (13/10/2005) menceritakan kasus yang dialaminya hingga dirinya terjerumus ke bisnis yang diduga money game ini. Teguh tergiur dengan keuntungan yang dijanjikan Dedi saat dilobi di sebuah hotel mewah. Teguh mengaku kenal Dedi Hanurawan dari salah seorang kawannya. Saat bertemu, Dedi meminta Teguh untuk ikut menanamkan modal pada perusahaannya yang bergerak di bidang penjualan BBM, oli berbagai merek, dan SPBU itu. Teguh dijanjikan akan mendapatkan keuntungan sekitar antara Rp 15 juta hingga Rp 20 juta tiap bulannya.Setelah 'tersihir' Dedi, Teguh pun menanamkan uang Rp 4 miliar lebih pada tahun 2002 lalu kepada Dedi. Dan benar, mulai Mei 2002, Dedi meraup untung seperti yang dijanjikan oleh sang pembalap itu. Tiap bulan dia mendapatkan keuntungan hingga Rp 15 juta. Bahkan, saat menghadapi liburan menjelang Lebaran, Natal, dan Tahun Baru, keuntungan yang diperolehnya berlipat ganda. Untuk mencairkan keuntungan ini sangat gampang. Sekali minta, uang langsung disetor. Sebuah surat akte kerjasama penanaman modal pun ditandatangani kedua belah pihak. Teguh tersenyum lebar saat itu. Bayangkan saja, hanya ongkang-ongkang kaki saja, dirinya mendapat keuntungan Rp 20 juta per bulannya. "Dia (Dedi) jago melobi. Banyak kalangan yang ikut menanamkan modal pada perusahaannya itu. Saya tidak tahu dia punya ilmu seperti apa," ungkapnya. Menurut Teguh, perusahaan Dedi ini berada di atas angin ketika perusahaan BUMN mulai masuk untuk menanamkan modal. Lonjakan keuntungan terasa ketika perusahaan ini mulai disuntik oleh perusahaan milik pemerintah tersebut. Menurut dia, aset modal waktu itu melonjak dari sekitar Rp 100 miliar, 200 miliar, 400 miliar, dan hingga Rp 800 miliar!Tapi, masa manis bisnis Dedi tidak bertahan lama. Mulai mulai tahun 2004 perusahaan mulai goyah. "Pembayaran sudah mulai tidak on time," ungkapnya.Sejak 2004, kata Teguh, setiap kali dirinya meminta keuntungan, pengiriman uang selalu telat. Bahkan ketika Teguh mulai berniat untuk keluar dari bisnis ini, uang modal awal pertama seret untuk diambil. "Saya tak sendirian. Korban yang lain banyak. Ini menyangkut pejabat besar. Bukan korban rakyat kecil," kata dia. Menurut Teguh, selama dirinya bergabung, perusahaan Dedi sama sekali tidak pernah menggelar rapat pemegang saham atau hanya sekadar melihat neraca keuntungan perusahaan, laporan laba rugi tiap triwulan. Setiap investor hanya dikumpulkan untuk membahas rencana perusahaan ke depan. Beberapa rencana ke depan, menurut dia, antara lain akan mengembangkan SPBU di 8 titik strategis dari Jakarta Hingga Bandung. Salah satu SPBU yang tengah dibangun, antara lain berada di jalur keluar tol Ciawi, Bogor. Menurut Teguh, SPBU ini, berdasarkan cerita Dedi, dibangun atas kerja sama dengan Chandra Salim.
(asy/)











































