Penjualan Minyak Tanah di Pangkalan Semarang Tersendat
Kamis, 13 Okt 2005 16:49 WIB
Semarang - Kenaikan harga BBM per 1 Oktober lalu berdampak ke mana-mana. Pangkalan minyak tanah mengeluh penjualannya tersendat."Tiga dari empat pangkalan yang disurvei mengaku stoknya bertahan lama. Biasanya sehari habis, setelah harga BBM naik, stoknya baru habis tiga atau empat hari," kata Koordinator LP2K (Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen) Semarang, Ngargono, di Jalan Imam Bonjol, Semarang, Kamis (13/10/2005).Ngargono menjelaskan, keempat pangkalan yang sempat disurvei adalah dua pangkalan di Jl. Gatot Subroto, Jalan Ngaliyan, dan Perumahan Permata Puri. Diperkirakan, pangkalan lain kondisinya juga tak jauh berbeda.Ngargono mensinyalir masyarakat tak punya daya beli akibat tingginya harga minyak tanah. "Bisa jadi juga masyarakat mulai beralih ke elpiji. Soalnya, harga elpiji kan belum naik," jelasnya.Boleh jadi, katanya, kedua dugaan itu salah. Artinya, selain tak kuat membeli, masyarakat juga tak beralih ke elpiji. Bagi masyarakat yang berada di pinggiran kota, mereka bisa saja beralih ke kayu bakar.Soal stok pangkalan, Ngargono menyebutkan satu pangkalan biasanya mendapatkan jatah sebanyak 5-18 ribu liter per bulan. Sebelum harga naik, jatah sebanyak itu selalu habis dalam waktu satu dua hari."Begitu harganya naik, mereka sangat terpukul. Omzet mereka turun drastis. Agar tidak merugi, sebagai pelaku usaha mereka berharap HET yang ditetapkan 5 Oktober lalu, dikoreksi," demikian Ngargono.
(asy/)











































