Tak Terima BOS, Puluhan Siswa SMP Mogok Belajar

Tak Terima BOS, Puluhan Siswa SMP Mogok Belajar

- detikNews
Kamis, 13 Okt 2005 16:44 WIB
Yogyakarta - Puluhan siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) III Kasihan, Bantul melakukan aksi mogok belajar. Mereka memilih tidak masuk sekolah dan tinggal di rumah sebagai bentuk protes tidak meratanya penyaluran dana Biaya Operasional Sekolah (BOS), yang merupakan bagian dari dana kompensasi BBM. Aksi mogok belajar selama tiga hari sejak Selasa (11/10/2005)-Kamis (13/10/2005) dilakukan oleh sebagian besar siswa-siswi kelas III dan sebagian siswa kelas II. Aksi mogok mereka didukung oleh orangtua murid.Aksi mogok sekolah ini antara lain dilakukan siswa kelas III A dan III B. Di kelas III A, dari 40 siswa, yang ikut mogok sekolah sebanyak 10 siswa. Sedangkan siswa kelas III B, dari 40 siswa, yang tidak masuk sebanyak 18 siswa. Sedangkan kelas II C, dari 40 siswa, sebanyak 18 siswa bolos. "Dana BOS itu sebenarnya untuk siswa atau untuk sekolah. Kalau untuk siswa, kenapa biaya SPP malah naik dari Rp 20.000 /bulan menjadi Rp 27.500/bulan dan seharusnya bisa mengurangi beban siswa membayar SPP," kata Wintolo, siswa kelas III C SMP III Kasihan kepada wartawan, Kamis (13/10/2005).Wintolo kemudian mencontohkan sekolah lain yakni SMPN II Kasihan, Bantul. Setelah menerima BOS, siswa hanya membayar Rp 7.000 dan sudah dapat tabungan Rp 7.000. "Kami melakukan protes ini juga didukung oleh orangtua. Kami juga meminta agar sekolah memberikan penjelasan sebenarnya dana BOS itu untuk siapa," katanya.Siswi kelas III A yang ikut mogok, Peni Novitasari (15) menambahkan aksi mogok terbesar dilakukan pada hari Rabu kemarin. Namun hari ini sudah ada beberapa siswa yang sudah masuk sekolah termasuk dirinya agar tidak ketinggalan pelajaran. Sebagian siswa lagi masuk sekolah, tapi memilih tidak mengikuti pelajaran dan hanya duduk-duduk di sekitar sekolah.Sementara itu secara terpisah, Kepala SMP III Kasihan Bantul Sunarti mengungkapkan, dana BOS yang totalnya mencapai Rp 115 juta itu semuanya diperuntukkan untuk keperluan siswa. Hanya saja, siswa yang memperoleh adalah siswa yang benar-benar miskin. Sedang siswa-siswa yang mampu berdasarkan penilaian sekolah memang tidak mendapatkan BOS.Sunarti menegaskan, pihak sekolah dalam memberikan BOS tidak gegabah. Pemberian dana BOS sudah dirapatkan dan diputuskan melalui dewan sekolah dan rapat bersama orangtua wali. Dari total 230 siswa, yang mendapat dana BOS hanya 86 orang dan sisanya 144 orang membayar SPP utuh. "Ini kami maksudkan agar orang yang menerima BOS benar-benar orang yang membutuhkan," katanya.Mengenai kebijakan menaikkan SPP, Sunarti enggan berkomentar. Sebab kenaikan biaya SPP tersebut sudah dimulai sejak tahun ajaran sekolah dimulai. Siswa ditarik uang pembangunan gedung sekolah sebesar Rp 6.500/siswa/bulan dan uang bina wisata Rp 2.500/siswa/bulan. "Sekolah tidak serta merta menaikkan SPP, tapi semua ini juga sudah diputuskan melalui rapat dan semuanya disetujui," katanya. (asy/)


Berita Terkait