detikNews
Rabu 03 Juli 2019, 08:58 WIB

Sosiolog Unhas: Inses di Bulukumba Terjadi karena Kontrol Sosial Lemah

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Sosiolog Unhas: Inses di Bulukumba Terjadi karena Kontrol Sosial Lemah Foto: Pernikahan sedarah warga Sulsel, kakak peristri adik kandung (Dok. Istimewa)
FOKUS BERITA: Heboh Inses Warga Sulsel
Jakarta - Sosiolog dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Profesor Dwia Aries Tina Pulubuhu, menilai kontrol sosial yang lemah menjadi sebab terjadinya inses di Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel). Inses tidak dibenarkan oleh masyarakat Bugis-Makassar.

"Kalau dari kultur di Sulawesi Selatan tidak ada itu di kultur Bugis, karena kami kan mayoritas dan dominan kultur Bugis itu dipengaruhi oleh Islam. Jadi kalau kayak begitu merupakan penyimpangan," ujar Dwia saat dimintai tanggapannya, Selasa (2/7/2019).

Dwia yang juga Rektor Unhas mengungkapkan, beberapa kasus perkawinan sedarah di Sulsel terjadi di daerah pedesaan, di mana ketidakpahaman masyarakat akan bahaya perkawinan sedarah masih sangat lemah.

"Kontrol sosial dari masyarakat berarti tidak berjalan dengan baik di sana. Kalau misalnya orang tua membolehkan, paling tidak kan kerabat atau tetangga saling mengingatkan, berarti sudah lemah kan kontrol sosialnya," katanya.

Agar kasus pernikahan sedarah tidak kembali terjadi, masyarakat perlu dipahamkan terkait bahaya perkawinan sedarah dari sudut pandang kesehatan. Masyarakat juga harus tahu hukum agama yang melarang perkawinan sedarah.

"Ke depannya tidak bisa tinggal diam seperti itu, mesti ada kontrol sosial baik yang formal atau kontrol sosial informal dari lingkungan sekitarnya dan sebagainya," imbuhnya.


Menurut pengamatan Dwia, kasus perkawinan sedarah sangat jarang terjadi di Sulawesi Selatan. Dari kasus yang terjadi ada beberapa motif yang menjadi sebab terjadinya perkawinan sedarah.

"Ada kalanya mereka, perkawinan (sedarah) untuk melindungi harta supaya tidak jatuh ke mana-mana. Jadi perkawinan itu perkawinan sosial. Kalau motifnya seperti itu barangkali mereka untuk harta tidak ini (menikah dengan serius), ya barangkali kawin tapi mereka tidak melakukan perkawinan normal," tuturnya.

"Tapi kalau motifnya karena memang ingin melahirkan keturunan dan sebagainya itu pelanggaran," lanjutnya.


Dwia memastikan perkawinan sedarah dalam bentuk inses masih menjadi hal yang tabu bagi masyarakat Bugis-Makassar. Namun berbeda dengan perkawinan kekerabatan atau inbreeding yang terjadi karena beberapa sebab.

"Di Bugis Makassar ini kan ada yang untuk tujuan melindungi harta, menjaga link (garis keluarga), kan di Sulawesi Selatan itu suka ada kekerabatan (marga) yang berbasis Karaeng, Andi, dan sebagainya, itu kan masih kuat. Ada yang dalam rangka menjaga trah," jelasnya.

"Kalau dalam rangka menjaga trah itu bisa jadi mereka ya nggak mau keturunan keluar dari trah sebagai kasta tertinggi. Tapi ada juga karena, kalau orang kita sini bilang orang pintar, nggak mau trahnya tercampur darah orang lain yang bukan keturunan suci, pintar," lanjutnya.

Dwia mengungkapkan, perkawinan kekerabatan dengan alasan untuk menjaga trah keluarga dan menjaga keluarga agar tetap berada di stratifikasi atas memang biasa terjadi dalam budaya Bugis Makassar.

"Kalau di Sulawesi Selatan umumnya yang kawin sedarah dalam kekerabatan itu dalam rangka itu karena mereka masuk dalam unsur keluarga stratifikasi atas, misalnya Andi, Karaeng, Tetta, turunan Datuk biasa, kawin kerabat itu biasa," ungkapnya.


Dalam kasus perkawinan sedarah (incest) antara kakak dan adik di Kabupaten Bulukumba, Dwia memastikan bukan karena unsur menjaga trah keluarga. Terlebih dalam kasus di tersebut kedua orang tua pelaku tidak terima dan menganggap kedua kakak adik tersebut bukan lagi anaknya.

"Ini unsur si kakak dan adik ini, pengawasan sosial yang lemah, pengawasan orang tua lemah, pengawasan dari kerabat ramah, ini yang jadi keprihatinan kita, lama-lama bukan kawin saja, lain-lain juga," ucapnya.

Simak Video "MUI soal Pernikahan Inses di Sulsel: Haram, Harus Dibatalkan!"
[Gambas:Video 20detik]

(nvl/dnu)
FOKUS BERITA: Heboh Inses Warga Sulsel
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com