detikNews
Senin 01 Juli 2019, 12:13 WIB

Begini Beda Pidato Jokowi 2014 dan 2019, Kini Ajak Prabowo Bersama

Tim detikcom - detikNews
Begini Beda Pidato Jokowi 2014 dan 2019, Kini Ajak Prabowo Bersama Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Ada perbedaan besar dalam pidato Jokowi usai ditetapkan sebagai presiden terpilih pada tahun 2014 dan 2019. Jika pada 2014, Jokowi sama sekali tak menyinggung Prabowo, kini pria asal Solo itu secara tersurat mengajak Prabowo untuk bersama membangun negara. Begini perbedaan besar dalam Jokowi itu.

Dalam pidatonya usai penetapan KPU, Jokowi mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang besar. Oleh karena itu, dia mengajak Prabowo dan Sandiaga untuk turut membangun negara Indonesia. Begini pidato lengkap Jokowi di Gedung KPU, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Minggu (30/6/2019).


Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Selamat sore, salam sejatera, shalom, om swastiastu, namo budhaya, salam kebajikan.

Bapak, Ibu sekalian.

Alhamdulillah, kita semuanya bersyukur KPU telah menyelesaikan tugas konstitusionalnya untuk menetapkan capres cawapres terpilih melalui pleno terbuka yang baru saja kita ikuti.

Saya dan Pak Kiai Ma'ruf Amin mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh rakyat kepada kami berdua untuk melanjutkan tugas sejarah, membawa seluruh rakyat Indonesia menuju Indonesia maju yang bermartabat, sejajar dengan negara-negara lain di dunia.

Kami berdua akan mendedikasikan diri kami mencapai cita-cita para pendiri bangsa. Kami berdua akan berjuang sekuat tenaga, kerja sekuat tenaga, untuk melanjutkan pondasi yang telah kami bangun bersama Bapak Jusuf Kalla pada periode pertama pemerintahan.

Kami menyadari Indonesia adalah negara besar. Indonesia tidak bisa dibangun hanya dengan satu orang, dua orang, atau sekelompok orang. Oleh karena itu, saya mengajak Pak Prabowo Subianto dan Pak Sandiaga Uno untuk bersama sama membangun negara ini.

Saya yakin beliau berdua adalah patriot yang menginginkan negara kita makin kuat, makin maju, dan makin adil dan makmur.

Terakhir, saya mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk melupakan perbedaan pilihan politik yang sempat membelah kita, 02 dan 01.

Kita harus bersatu kembali, menjadi Indonesia, negeri Pancasila yang mempersatukan kita semuanya.

Wasssalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejatera, shalom, om santi santi om, namo budhaya, salam kebajikan.



Hal ini berbeda dengan pidato Jokowi usai penetapan dirinya sebagai Presiden 2014 oleh KPU. Kala itu, Jokowi bahkan tak menyebut sama sekali nama Prabowo. Jokowi berterimakasih kepada para relawannya yang tak turun ke Jalan saat penetapan Presiden oleh KPU. Begini pidato lengkap Jokowi di Taman Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (23/7/2014).


"Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh. Selamat sore, salam sejahtera bagi semua.

Yang saya hormati komandan-komandan dan pimpinan relawan dan seluruh relawan yang pada sore ini hadir.

Pertama-tama saya dan Pak JK ucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Kemarin tanggal 22 Juli tidak ada satu orang pun dari kita yang berada di jalan. Ini bentuk, bentuk apa? Bentuk patuhnya kita semua pada komando yang diberikan. Itu penting. Kalau saya yang sudah ngomong tanggal 22 jangan ada yang keluar, terus ada yang keluar. Apa yang terjadi? Omongan saya tidak akan dipercaya oleh siapa pun. Tetapi kemarin membuktikan bahwa omongan saya masih dipercaya oleh rakyat, oleh masyarakat, oleh relawan. Oleh sebab itu saya ucapkan terima kasih.

Kemudian yang kedua, baru saja kita melihat. Kita mendengar, bahwa KPU telah menetapkan Jokowi dan JK sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI tahun 2014-2019. Tapi juga jangan tergesa-gesa terlebih dahulu, karena masih menunggu pelantikan 22 Oktober yang akan datang. Tetapi pada kesempatan yang baik ini, sekali lagi saya ucapkan, terimakasih yang sebesar-besarnya, Jokowi-JK terima kasih sebesar-besarnya atas kerja kerasnya selama ini. Pagi-siang-malam-subuh-pagi-siang-malam-subuh terus menerus tiada henti.

Oleh sebab itu kalau tadi malam diumumkan ada perbedaan yang ruang besar sekali, 8 juta 400 pemilih. Perbedaannya saya kira itu wajar. Karena relawan dan semuanya seluruhnya bekerja.

Kemudian yang ketiga, kemarin kita melihat bahwa di masyarakat terjadi sebuah sedikit kerenggangan sosial. Oleh karena itu, mulai detik ini saya mengajak bapak-ibu semuanya untuk kembali merangkul tetangga kita yang renggang kemarin. Termasuk keluarga yang renggang. Kemudian antara teman-antar sahabat, yang karena pilpres agak renggang. Ini coba dirangkul kembali. Sanggup?

Jangan lupa kita ini satu negara, satu bangsa. Ingat itu.

Karyawan kantor, Marilah kita semuanya kita kembali normal masuk kantor lagi. Yang pekerja dan buruh pabrik, kita kembali masuk pabrik secara normal lagi. Yang kuliah yang sekolah, kembali lagi ke sekolah. Meskipun tahu saya, ini libur. Merayakan lebaran dan idul fitri. Taetapi saya mengingatkan, kita ini satu bangsa, satu Indonesia. Maka itulah yang harus kita kumandangkan.

Dan salamnya juga diganti, bukan salam dua jari. Tetapi salam persatuan Indonesia. Salam tiga jari. Angkat tangan kita semuanya, tiga jari, tiga jari, tiga jari.

Wasssalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.



Melihat Lagi Sambutan Jokowi-Ma'ruf Usai Ditetapkan Jadi Presiden-Wapres Terpilih:

[Gambas:Video 20detik]



Simak Video "Gagahnya Upacara Militer Sambut Sertijab Menhan Prabowo"
[Gambas:Video 20detik]

(rdp/fjp)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com