Iyuk Tewas Diganyang Macan
Rabu, 12 Okt 2005 14:17 WIB
Pekanbaru - Konflik manusia dan harimau di Riau masih saja terjadi. Padahal populasinya tak lebih dari 100 ekor. Tergres, Iyuk (40), seorang kepala rumah tangga, mesti meregang nyawa karena tubuhnya diganyang macan.Apes. Begitulah nasib Iyuk asal Desa Sei Pagar Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar-Riau, terpaut 70 km arah utara dari Pekanbaru. Akhir pekan lalu, dia menjadi korban dari keganasan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae).Iyuk selama ini merupakan salah satu dari sekian banyak warga setempat yang memenuhi kebutuhan hidupnya dari menyadap pohon karet. Pada Jumat (7/10/2005) lalu, sebagaimana biasanya, setelah menyantap hidangan pagi, ia pun bergegas menuju perladangan karetnya.Untuk menyadap getah karet memang harus dikerjakan pagi hari, dengan harapan hasilnya akan lebih banyak ketimbang setelah matahari terbit. Tapi, sejak keberangkatan itu, Iyuk hingga sore harinya tak kunjung pulang ke rumah. Yang paling gelisah tentulah Ita (36), sang istri. Dia mondar-mandir mencari suaminya di perladangan mereka. Tapi tak juga membuahkan hasil. Sampai malam harinya, di kampung itu pun menyebar kabar bahwa Iyuk sejak pagi belum kembali ke rumah.Keesokan harinya, warga kampung pun sepakat untuk mencari tahu keberadaan Iyuk. Tapi Ita langsung lemas. Dia bersama tetangganya menemukan Iyuk telah jadi bangkai. Tubuhnya terkoyak-koyak, sebagian dagingnya tak utuh lagi. Warga sempat terperangah menyaksikan mayat Iyuk yang masih dirobek-robek sang datuk (sebutan warga kampung untuk harimau). Walau warga kampung memergokinya, namun harimau itu tetap santai menikmati daging Iyuk yang masih tersisa. Akhirnya seorang warga berinisitif menembakkan senapan untuk menakuti macan itu. Mendengar ada letusan, tak lama harimau itu pun meninggalkan jasad Iyuk yang tak utuh lagi."Kita perkirakan, sudah 40 kasus konflik harimau sumatera dengan manusia. Dan 29 kasus di antaranya tewas. Sebagian besar kasus ini terjadi di daerah perkebunan atau areal bukaan hutan baru yang selama ini menjadi habitat harimau. Iyuk merupakan kasus yang diterkam harimau di tengah perkebunan karetnya," kata Koordinator Tim Tiger Program World Wide Fund (WWF) Riau, Abeng, pada detikcom, Rabu (12/10/2005).Konflik harimau dengan manusia sejak beberapa tahun terakhir cenderung meluas dari awalnya hanya terjadi di sekitar tiga kabupaten/kota menjadi lima kabupaten/kota di Riau. Meski areal hutan di Riau masih sekitar empat juta hektare dan sekitar 485 ribu hektar di antaranya termasuk hutan konservasi, namun habitat harimau sumatera sudah semakin terjepit. Populasi harimau sumatera di Pulau Sumatera saat ini diperkirakan hanya tinggal 300 hingga 400 ekor lagi. Hampir 100 ekor lebih berada di Riau, yang terkonsentrasi di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, hutan konservasi Senepis, kawasan Tesso Nilo, dan belasan ekor lainnya tersebar di Riau daratan dan kepulauan.
(nrl/)











































