detikNews
Selasa 25 Juni 2019, 12:36 WIB

Kualitas Udara Jakarta Dinyatakan Tak Sehat, Ini Kata Pemprov DKI

Arief Ikhsanudin - detikNews
Kualitas Udara Jakarta Dinyatakan Tak Sehat, Ini Kata Pemprov DKI Kondisi Jakarta pada Selasa (25/6) / Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Situs penyedia peta polusi udara online, AirVisual, menyatakan bahwa kualitas udara di Jakarta pagi ini tidak sehat. Apa kata Pemprov DKI?

Berdasarkan data di situs maupun aplikasi AirVisual pada pukul 10.00 WIB, nilai air quality index (AQI) Jakarta adalah 168. Jakarta ada di posisi kedua setelah Lahore, Pakistan. Kualitas udara di Jakarta dinyatakan 'unhealthy'. Pagi tadi, nilai AQI Jakarta juga sempat mencapai angka 216 atau masuk ke kategori 'very unhealthy'.

AQI adalah indeks yang dipakai AirVisual untuk mengukur tingkat keparahan polusi udara di sebuah kota. Indeks ini mempertimbangkan 6 polutan utama yaitua PM2.5, PM10, karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan ozon di permukaan tanah. Enam polutan utama itu dikalkulasikan menjadi angka AQI. Rentang nilai AQI adalah 0-500. Semakin tinggi nilai AQI maka semakin tinggi tingkat polusi udara.

AirVisual Nyatakan Udara Jakarta Tak Sehat, Ini Kata Pemprov DKIFoto: Kualitas udara Jakarta (Situs AirVisual)



Pemprov DKI tidak menjadikan data tersebut sebagai acuan. Situs maupun aplikasi itu dinilai sebagai sarana informasi bagi warga.

"Kita tidak terlalu merespon data real-time. Kami semua, info untuk memberikan pengingat kepada warga, boleh saja," ucap Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Andono Warih, saat dihubungi, Selasa (25/6/2019).

Andono juga menilai informasi tersebut selalu berubah secara dinamis. Oleh sebab itu, datanya tidak dijadikan patokan oleh DLH DKI.

"Kedua, info itu harus dilihat hal berimbang. Karena begini, masalah udara sangat dinamis. Itu bisa berubah dalam jam atau menit," kata Andono.



Andono mengatakan kualitas udara di Jakarta secara umum masih moderat. Dia meyakini kualitasnya masih lebih baik dibanding kota besar di negara lain.

"Secara umum masih dalam, tahun ini moderat. Di tengah-tengah, ada satu saat unhealthy. Kemudian dibandingkan benchmark di manapun dibandingkan negara lain, secara kasat mata kita lebih bagus dari kota lain, atau kota yang lagi tumbuh pesat. Kita secara kasat mata saja lebih bagus. Jakarta ini kan geografi di kota pantai, selalu ada angin laut," paparnya.

Dari informasi yang diperolehnya, posisi alat ukur dari AirVisual hanya ada satu di Jakarta. Dengan demikian, hasilnya tidak bisa dipukul rata se-Jakarta.

"AirVisual, kan dia menggunakan alat ukur satu titik adanya di Kwitang (Pasar Senen). Kita orang Jakarta, di Patung Tani, kan memang tahu (udara di sana). Kalau ukuran Patung Tani untuk satu Jakarta kurang akurat juga," ucap Andono.

Soal dampak kualitas udara terhadap kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup berpegang pada data Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Belum ada kasus penyakit karena udara buruk di DKI Jakarta.

"Efek dari pencemaran udara dari data pemaparan Dinas Kesehatan, belum ada korelasi kuat antara polisi udara dengan kesakitan, atau pernapasan di Jakarta," ujar Andono.



Tonton juga video saat Akui Udara Jakarta Kotor, Anies: Yang Ngotorin Kita Semua:

[Gambas:Video 20detik]


(aik/imk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed