detikNews
Minggu 23 Juni 2019, 14:37 WIB

Cerita Trio 'Dokter Cinta' dari Jakarta

Melisa Mailoa - detikNews
Cerita Trio Dokter Cinta dari Jakarta Foto: Dok. Kelas Cinta
Jakarta -

Suaca cerah tak mampu menutupi muramnya hati tiga lelaki muda yang sedang meriung di sebuah kafe. Tak tampak sedikit pun semburat senyum di bibir mereka. Kei Savourie, Lex dePraxis dan Jet Veetlev, serius saling curhat masalah percintaan mereka. Saat itu usia ketiga pria ini masih berkisar di 20-an awal. Masa di mana mereka sedang semangat-semangatnya mencari pasangan.

Sayangnya, langkah mereka selalu bertemu dengan momok yang paling ditakuti para jomlo sedunia. Pemuda-pemuda ini rupanya "berjodoh" dengan lingkaran setan bernama friendzone alias zona teman. "Kisah percintaan kami bertiga sedih, nggak ada yang mau pokoknya, ditolak terus, masuk friendzone terus. Boro-boro diselingkuhin, pacar aja nggak punya," seloroh Kei saat ditemui detikX beberapa hari lalu.

Menghadapi problem yang sama, Kei, Lex, dan Jet yang berkenal di sebuah forum online akhirnya sepakat kopi darat. Dari hasil curhat dari kafe ke kafe mereka sepakat mulai mencari jalan keluar masalah percintaan yang membelit. Karena semua memiliki hobi membaca, mereka memulai dengan riset. Segala macam bahan bacaan dilahap baik yang didapatkan dari internet maupun dari berbagai buku referensi dari luar negeri.

Baca Juga: Jago PDKT, Bukan Playboy

Dari hasil riset, menurut Kei, mereka menemukan kesalahan mendasar terkait pola pikir pria ketika mendekati perempuan. Selama ini kaum pria menyangka perempuan itu lebih memilih pasangan yang memiliki paras ganteng, punya kelakuan baik, dan rela berkorban. "Ternyata ketika wanita melihat seorang pria, maka ia akan melihat sosok pria yang jantan bukan ketulusan," kata Kei. "Ia (wanita) akan melihat cowok yang percaya diri, tegas, manly. Bukan berarti harus punya body yang besar dan berotot, tapi kelihatan-lah dari cara duduknya, cara jalannya, ada percaya diri."

Setelah merasa ilmu yang didapatkan sudah memadai, mereka pun mulai mempraktekan teori-teori itu untuk diri sendiri. Tak butuh lama bagi Kei untuk mendapatkan pasangan yang diidamkannya. Begitu pula dengan dua kawan yang kemudian jadi sahabatnya. "Jadi yang selama ini kami omongin dan lakukan dikira cuma opini belaka atau asbun. Padahal ada bahan risetnya. Makanya kami bisa bilang bahwa ternyata cinta itu logis, ada pattern yang bisa diamati dan dipelajari," ujar Lex dePraxis.

Baca Juga: Mencari Cinta di Biro Jodoh Tua

Keberhasilan mengatasi permasalahan asmara dengan teori yang dipelajari sendiri, membuat ketiganya melihat sebuah peluang bisnis. "Kalau di luar negeri, terutama di negara barat konsultan semacam ini sudah banyak. Kami banyak belajar dari mereka. Mereka training tapi bukan biro jodoh loh, ya," ujar Kei. Mereka pun menyepakati membuat sebuah lokakarya tentang asmara.

Pengumuman soal acara itu mereka sebar lewat milis-milis dan di kolom komentar sejumlah blog. Ternyata acara pertama mereka di Februari 2006 itu hanya dihadiri satu orang peserta. "Uang kontribusi Rp 200 ribu buat makan. Tapi senang banget pertama bisa dapet," ujar Kei. Memang waktu itu mereka masih bergelut dengan pekerjaan masing-masing dan pelatihan itu dijadikan sambilan saja. Namun mereka berkomitmen pelatihan harus digelar tiap bulan.

Baca ulasan selengkapnya di detikX edisi 22 Juni 2019


(pal/irw)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed