detikNews
Rabu 19 Juni 2019, 14:46 WIB

Akhir Cerita Eks Pacar yang Sebar Foto Bugil Anggota Paskribra di Klaten

Andi Saputra - detikNews
Akhir Cerita Eks Pacar yang Sebar Foto Bugil Anggota Paskribra di Klaten Ilustrasi (dok.detikcom)
Klaten - Kisah asmara korban dengan pelaku di Klaten, Jawa Tengah, awalnya manis. Namun pertengkaran yang tak berkesudahan membuat semuanya memburuk. Korban menanggung malu seumur hidup, pelaku meringkuk di penjara.

Kasus bermula saat korban menjalin kisah cinta dengan kakak kelasnya inisial A sejak awal 2017 silam. Layaknya hubungan pacaran, sehari-hari mereka diwarnai cinta kasih.

Namun, A mulai menunjukkan tabiat buruk. A meminta kekasihnya untuk mengirimkan foto telanjangnya ke HP miliknya. Di bawah tekanan, korban menuruti kemauan kekasihnya.


Setahun berlalu, hubungan mereka memburuk dan putus. Pasca putus, korban memilih pindah ke kota sebelah agar menenangkan diri. Namun, A tidak terima dan terus mengejar korban agar cintanya diterima.

Korban yang sudah punya pengalaman buruk, memilih diam dan tidak kembali berhubungan. A bukannya mundur, malah ia makin menjadi-jadi. Ia mengancam akan menghancurkan hidup A.

Ancaman itu nyata adanya. A menggunakan foto-foto lama korban untuk menghancurkan hidup korban. A menyebar foto telanjang korban ke Instagram Paskibra tempat sekolah korban menimba ilmu. Tidak hanya itu, A juga menyebar ke teman-teman A.

Hancur lebur perasaan korban. Keluarga tidak terima dan menempuh jalur hukum. A dilaporkan ke Polisi pada awal tahun ini. A yang kini duduk di kelas 3 SMA itu akhirnya duduk di kursi pesakitan.

"Menjatuhkan pidana terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 3 tahun dan denda Rp 5 juta subsidair 1 bulan kurungan," putus majelis PN Klaten sebagaimana dilansir websitenya, Rabu (19/6/2019).

Duduk sebagai ketua majelis Nurjusni dengan anggota M Wachid Usman dan Suryodiyono. Majelis menyatakan A dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransimisikan dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.

"Perbuatan terdawa membuat rasa malu dan trauma dalam diri korban. Perbuatan terdakwa membuat korban serta keluarganya terancam atas ancaman terdakwa," ujar majelis menjelaskan hal yang memberatkan terdakwa.


(asp/aan)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed