Soal Iklan BBM, Pemerintah Lakukan Pembodohan Disengaja

Soal Iklan BBM, Pemerintah Lakukan Pembodohan Disengaja

- detikNews
Selasa, 11 Okt 2005 13:21 WIB
Jakarta - Pemerintah dianggap sudah melakukan pembodohan yang disengaja terkait iklan layanan kenaikan harga BBM. Sebab, para bintang iklan mengaku kaget dan tidak menyangka besaran kenaikan harga BBM akan selangit. Duh.."Itu adalah bentuk pengaburan yang sengaja dilakukan pemerintah," cetus pakar komunikasi politik dari UI, Effendi Gazali, saat dihubungi detikcom, Selasa (11/10/2005).Ia berpendapat sebelum kenaikan harga BBM, pemerintah kerap mengeluarkan pernyataan yang berbeda-beda. Semula kenaikan disebutkan sekitar 30-50 persen kemudian diperkirakan mencapai 90 persen. "Ini kan membuat rakyat bingung. Apalagi tiba-tiba kenaikan (minyak tanah) mencapai 185,7 persen," jelas dia.Belum lagi, pemerintah juga tidak membuka wacana publik perihal pro kontra kenaikan harga BBM. Padahal, sebelum kebijakan pemerintah keluar, seharusnya dibahas dalam wacana publik. "Tapi ini pemerintah belum-belum sudah mematikan wacana kenaikan harga BBM," tambahnya.Menurut dia, saat pemilihan presiden mendatang, sebaiknya setiap pasangan calon mengumumkan rencana kebijakan harga BBM, agar publik mempunyai patokan harga BBM jika pasangan calon tersebut terpilih. "Sehingga rakyat tidak lagi dibohongi," kata Effendi.Salah satu bintang iklan BBM, Kurtubi, mengaku tidak menyangka pemerintah akan melejitkan harga BBM. Saat pengambilan gambar untuk iklan pun, pengamat perminyakan ini mengaku tidak tahu menahu besaran kenaikan harga BBM. Bintang iklan lainnya, Syofwan Karim Elha, kondisinya lebih parah lagi . Pendapat tokoh masyarakat Sumatera Barat yang ditayangkan itu justru petikan wawancara dengan televisi perihal kenaikan harga BBM. Apalagi, penyataannya pun standar. "Kenaikan harga BBM itu memang tidak dapat dielakkan," jelas Syofwan. Ia pun mengakui tidak mengetahui berapa besaran kenaikan harga BBM. Alasannya, wawancara dilakukan sehari sebelum pengumuman kenaikan harga BBM pada 1 Oktober lalu. (ton/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads