detikNews
Minggu 16 Juni 2019, 17:57 WIB

Golkar Dianggap Terpuruk di Pemilu 2019, SMRC Bandingkan dengan Demokrat

Ibnu Hariyanto - detikNews
Golkar Dianggap Terpuruk di Pemilu 2019, SMRC Bandingkan dengan Demokrat Foto: Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Sirojudin Abbas (Ibnu-detikcom)
Jakarta - Pencapaian Golkar pada Pemilu 2019 dinilai tidak memuaskan. Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Sirojudin Abbas tak sepakat, sebab Golkar masih memperoleh kursi yang cukup banyak pada Pemilu 2019.

"Kita harus melihat bahwa Golkar punya kekenyalan, punya daya tahan untuk bisa menjaga posisi politiknya di tengah masyarakat. Jadi meskipun peristiwa yang cukup serius, pecah kepemimpinan, ketumnya ditangkap, sebelum pencoblosan ketahuan ada money politik. Tapi perolehan Golkar itu masih cukup baik terus sampai saat ini, tergantung melihatnya kalau jumlah perolehan suara agak menurun, tapi perolehan kursi tidak terlalu juga," kata Sirojudin Abbas ditemui di kantornya, Jl Cisadane, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (16/4/2019).

Menurut Abbas, Golkar masih berada di barisan partai-partai peringkat teratas. Hal itu dikarenakan Golkar memiliki insfrastruktur politik yang mampu menjaga partai agar tetap berada di peringkat teratas.



"Dalam situasi yang sulit selama 5 tahun ini tapi Golkar masih punya kemampuan insfrastruktur politik yang sangat baik untuk menjaga partai secara keseluruhan agar tidak jatuh pada level yang lebih rendah," ujarnya.

Abbas lalu membandingkan perolehan Golkar dengan Demokrat yang peringkatnya jaruh pada Pemilu 2009 ke 2014. Menurutnya, Golkar tak mengalami kejatuhan yang serupa seperti dialami Demokrat. Untuk itu, ia tak sepakat bila perolehan Golkar dianggap terpuruk.


"Sekarang bandingkan dengan Demokrat yang jatuh 2009, jatuh di 2014, jatuh lagi di 2019 itu tidak terjadi pada Golkar, kenapa bagitu? Golkar punya pengalaman dan infrastruktur politiknya baik. Itu membuat dia untuk tidak mengalami untuk kehilangan kepecayaan secara menyeluruh yang dialami. Golkar tidak bisa diremehkan dari sisi kemampuan dari sisi insfrastruktur politik dan politisi yang dimilikinya," kata dia.

"Tidak sepakat (Golkar terpuruk di Pemilu 2019)," imbuhnya.

Selain itu, Abbas juga memiliki pendapat terkait adanya desakan dari Barisan Pemuda Partai Golkar (BPPG) agar Golkar segera melakukan musyawarah nasional untuk pengantian ketua umum. Ia menilai pemilihan ketum itu harusnya didasari apa yang dibutuhkan partai untuk lima tahun ke depan.

"Soal kebutuhaan ganti ketum tergantung prioritas Partai Golkar itu seperti apa. Ganti ketum itu ditentukan oleh strategi yang ditentukan oleh kebutuhan lima tahun ke depan mau seperti apa, target politik seperti apa, itu yang dilhat kebutuhan ketum seperti apa yang dibutuhkan untuk mencapai target-targetnya itu," sebutnya.



Diberitakan sebelumnya, kader muda Partai Golkar yang tergabung dalam Barisan Pemuda Partai Golkar (BPPG) mendorong dipercepatnya pergantian kepemimpinan di Golkar. Mereka ajukan nama Ketua DPR Bambang Soesatyo sebagai ketua umum selanjutnya sebagai respons atas pencapaian Pemilu 2019 yang merupakan titik terendah bagi Golkar.

"Kita mendorong musyawarah nasional dipercepat. Ini karena kita bersepakat bahwa sebenarnya Golkar ini dalam kondisi kritis. Jadi, ini adalah titik terendah dari pemilu-pemilu sebelumnya bahwa sekarang Golkar dari 2 besar turun jadi 3 besar," kata Inisiator BPPG, Abdul Aziz di Hotel Sultan, Jl Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Minggu (16/6).


Survei SMRC: Pasca-Kerusuhan 22 Mei, Kepuasan Berdemokrasi Menurun
(ibh/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com