Pesan Menteri kepada Penulis 'Mari Kita Bersama (Menderita)'

Pesan Menteri kepada Penulis 'Mari Kita Bersama (Menderita)'

- detikNews
Senin, 10 Okt 2005 17:40 WIB
Jakarta - Kenaikan harga BBM disikapi pro dan kontra, baik oleh para tokoh, pejabat, atau masyarakat biasa pun. Banyak pula tulisan akademisi atau pakar di media massa yang mengkritik kebijakan pemerintah yang memberatkan rakyat ini. Begitu tulisan anti kenaikan harga BBM nongol di media massa, sang penulis pun langsung diberi pesan oleh seorang menteri. Zaman sudah canggih. Pemberian pesan seorang menteri, tidak perlu bertele-tele lewat prosedur yang njlimet. Cukup lewat Short Message Service (SMS). Apalagi si penulis ini juga termasuk kawan dekat sang menteri. Itulah yang dialami Effendi Gazali, penulis artikel 'Mari Kita Bersama (Menderita)'. Artikel ini telah dipublikasikan Harian Kompas, edisi Senin (10/10/2005). Tulisan pakar komunikasi dari Universitas Indonesia (UI) ini memang pedas. Dari judulnya saja, tulisan Effendi Gazali memang mengkritik pemerintah SBY-JK. Saat kampanye tahun lalu, SBY-JK memakai motto 'Bersama Kita Bisa'. Dan oleh Effendi, tampaknya motto ini dijadikan judul dengan sedikit diplesetkan. Dalam tulisan itu, ada juga ilustrasi gambar Aa Gym dan pengamat perminyakan, Kurtubi. Kebijakan pemerintah yang dikritik Effendi, apalagi kalau bukan soal kenaikan harga BBM yang membumbung tinggi. Effendi memuat banyak sitiran yang dialamatkan kepada SBY-JK, termasuk mengingatkan tentang janji para calon presiden yang akan menomorsatukan rakyat kecil bila ada kenaikan harga BBM. Effendi juga mengulas tentang komentar sinis dan pongahnya para pembantu presiden menyikapi kenaikan harga minyak. Komentar rakyat yang sinis juga dijadikan bumbu dalam tulisan Effendi. Sebagai misal, ada tulisan, "Inilah perubahan yang dijanjikan SBY-JK saat kampanye dulu, hidup jadi lebih susah!"Sebagai pakar komunikasi, Effendi juga mengkritisi sosialisasi yang dilakukan Depkominfo terkait kenaikan harga BBM ini. Dia mengkritik cara sosialisasi kenaikan BBM dengan mengirim SMS, yang dinilainya terkesan mengeksploitasi pertentangan antarkelas (kaya-miskin).Effendi juga mengkritisi pelibatan Kurtubi dan Aa Gym dalam sosialisasi kenaikan harga BBM itu. Tentang hal ini, Effendi menuliskan hal menarik, "Saya menduga (mungkin saya salah) Kurtubi dan Aa Gym tidak menyangka kenaikan harga BBM, khususnya minyak tanah, akan begitu dahsyat! Diperkirakan, iklan itu dibuat 7-10 hari hari sebelum kenaikan harga BBM diumumkan. Apa perasaan jujur Kurtubi dan Aa Gym? Entahlah". Masih panjang tulisan Effendi. Masih banyak pula yang dia koreksi. Namun, yang menarik, begitu tulisan itu muncul di harian Kompas, seseorang menteri mengirimkan SMS kepadanya. Dan SMS ini pun beredar begitu cepatnya kepada banyak pihak. Sang menteri itu pun menulis pesan sebagai berikut: "Kali ini saya sangat sedih Pak Effendi, logika oposisi anda tanpa berempati sedikit pun pada kesulitan negara yang begitu parah: harga minyak US$ 65, subsidi Rp 113 T, APBN terancam bolong, defisit yang tak tertutupi Rp 23 T, rupiah akan hancur dan ekonomi di ambang krisis seperti 98, seandainya BBM tidak dinaikkan. Jika itu yang terjadi, bisa negara kita bangkit kembali? Persoalan ini bukan masalah SBY, tapi masalah bangsa. We have to choose the lesser of two evils, saudaraku. Saya berharap ilmuwan bersikap fair dan broad minded. 'Janganlah karena kebencianmu kepada satu kaum/kelompok membuat kamu tidak adil' begitu kata Quran. Kalau anda politisi tentu saya tidak mengharap banyak. Coba baca lagi dan lihat angle lain dari tulisan itu". Di bagian akhir, sang menteri ini mengucapkan terima kasih. Dia menampilkan inisial nama dirinya. SMS sang menteri ini jelas jadi perbincangan menarik di banyak kalangan. (asy/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini