Sulitnya Mengungkap Pelaku Bom Bali II
Senin, 10 Okt 2005 13:14 WIB
Jakarta - Seminggu sudah bom Bali II yang memilukan warga dunia terjadi. Sedikitnya 23 orang dinyatakan tewas dan puluhan orang luka-luka akibat ledakan di Kuta Square dan Jimbaran tersebut. Namun upaya polisi mengungkap para pelaku bom Bali sampai saat ini belum menemukan titik terang. Polisi hanya memastikan 3 kepala orang yang lepas dari badannya diduga sebagai pelaku bom bunuh diri.Sehari setelah bom terjadi, Kapolda Bali Irjen Made Mangku Pastika mengeluarkan pernyataan kasus bom Bali II tidak segelap bom Bali I. Pasalnya, beberapa peristiwa bom sebelumnya yang terjadi di Tanah Air bisa menjadi petunjuk awal.Namun sampai hari ke 10, tim investigasi bom di Raja's Bar & Restaurant, Kafe Menega dan Kafe Nyoman belum berhasil meresmikan tersangka . "Belum ada kemajuan. Belum ada yang ditetapkan jadi tersangka," ujar Kapolda Bali I Made Mangku Pastika.Padahal usaha pengungkapan kasus ini tak main-main. Hampir semua tim antiteror dari berbagai Polda dikerahkan ke Bali. Demikian juga tim Mabes Polri juga menurunkan tim terbaik, di bawah pimpinan langsung Wakabreskrim Mabes Polri Irjen Pol Gories Merre. Sementara Kapolda Bali menunjuk Direktur Reskrim Polda Bali Kombes Dewa Made Suharya sebagai ketua tim penyelidikan kasus ini.Sampai saat ini tim penyidik dan tim forensik hanya mendapatkan potongan tubuh baik bagian kepala, maupun tubuh lainnya. Juga ditemukan kabel-kabel dan detonator di Kafe Nyoman. Namun untuk mengenali identitas siapakah 3 orang yang tewas karena kepalanya lepas sampai saat ini belum ada kemajuan.Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengungkap misteri identitas 3 kepala ini. Di antaranya mempublikasikan wajah 3 kepala itu sampai ke ciri-cirinya. Selain melalui media massa, foto dan poster juga dipasang di tempat-tempat strategis di Denpasar. Namun, sampai saat ini, belum ada warga Bali yang mengaku sebagai keluarga maupun mengakupernah melihat tiga wajah tersebut.Beberapa warga sempat merespons pengumuman 3 wajah yang gencar dipublikasikan itu. Buntutnya, seorang pemuda asal Brebes dan seorang mahasiswa Unpad Bandung sempat menjadi korban karena wajahnya agak mirip. Namun setelah diklarifikasi, ternyata mereka masih hidup dan segar bugar.Laporan lainnya berasal dari warga Solo yang mengaku pernah melihat salah satu pelaku dengan nama Gareng. Nama Gareng disebut-sebut sebagai nama samaran Abu Zakaria. Nama ini beredar dari Polda Bali yang ditindaklanjuti oleh Polwil Solo. Namun, ternyata orang tersebut sudah lama meninggalkan kampungnya di Solo. Anehnya, belum ada warga Bali yang melaporkan mengenal keberadaan mereka di Pulau Dewata. Padahal, ketiga orang itu bukan penduduk asli Bali, sehingga warga setempat mudah mengetahuinya. Pendatang bisa jadi menginap di tempat penginapan/hotel dan menyewa kendaraan selama di Bali. Namun, berdasar keterangan polisi, hingga kini tidak ada laporan dari dari pemilik hotel, rental kendaraan ataupun kos-kosan yang pernah berhubungan dengan ketiga orang itu.Dua TeoriSumber di kepolisian menyebutkan, tim investigasi menggunakan teori induktif dan deduktif. Teori induktif digunakan untuk memulai penyelidikan berdasarkan data yang diperoleh dari lokasi peledakan. Misalnya dari barang bukti sampai saksi-saksi di lokasi ledakan.Sudah lebih dari 100 saksi yang diduga mengetahui atau berada di tiga lokasi ledakan bom dimintai keterangannya. Namun, sejumlah saksi tersebut hanya memperjelaskan ciri-ciri pelaku. Sementara teori deduktif berdasarkan dengan asumsi, teori dan perkiraan. Ini bisa menunjuk terori konspirasi dan dugaan dengan pelaku bom sejenis. "Berbagai pengejaran di Solo, Jawa Timur dan Banten ini bagian dari teori ini," ujarnya.Demikian juga upaya mengaitkan dengan pelaku peledakan bom Bali Legian pada tahun 2002 lalu. Amrozi CS saat ditanya apakah mengenal foto 3 pelaku bom bunuh diri di Kuta dan Jimbaran, ia menyatakan tidak mengenalnya.Sayanganya, usaha dari kedua lini yang mau digabungkan ini belum menemukan titik terang. Hasil penyelidikan berdasarkan fakta dari lokasi masih berkutat mencari identitas pelaku bom bunuh diri. Sementara berdasarkan teori konspirasi hasilnya belum sesuai harapan.
(jon/)











































