Sidak Mendag di Pasar Koja Disambut Emosi Masyarakat
Senin, 10 Okt 2005 11:24 WIB
Jakarta - Begitu kesalnya masyarakat terhadap kenaikan BBM, membuat acara sidak Menteri Perdagangan (Mendag) Mari Pangestu menjadi tumpahan emosi pembeli dan pedagang di Pasar Koja Jakarta Utara.Tidak seperti sidak yang dilakukan Mendag sebelumnya yang relatif berjalan mulus, sidak kali ini dijadikan kesempatan masyarakat di Pasar Koja untuk memaki kebijakan pemerintah.Masyarakat, baik pembeli maupun pedagang, yang mengetahui acara sidak ini langsung menyerbu ketika Mendag masuk ke pasar. Mari dihujani keluhan pedagang dan pembeli yang terlihat emosional."Bu gimana nih harga naik terus kita sudah nggak kuat," ujar seorang pembeli sambil berteriak."SBY itu tahu nggak kalau rakyat menjerit, jadi tolong dikasih tahu ya Bu, kita ini sudah nggak kuat," kata pembeli lainnya."Tolonglah Bu, dagangan kami sepi, pembeli sudah nggak mampu," teriak seorang pedagang.Mari yang diberondong beberapa pertanyaan-pertanyaan itu hanya mendengarkan saja dan mencoba menenangkan warga.Kepada warga yang berada di pasar itu, Mari mengatakan, bahwa pemerintah terus berusaha agar harga stabil dan tidak ada lonjakan sampai menjelang lebaran.Dicontohkan, untuk stok gula dan beras tidak ada masalah dari pantauan yang ada di pasar induk dan produsen. Diakui, pada minggu ini sejumlah barang mengalami kenaikan karena ada penyesuaian biaya transportasi. Kecuali cabai naik turun karena musim dan stok."Kita berusaha untuk tidak naik lagi pada hari-hari sebelum lebaran, karena biasanya harga melonjak tapi setelah lebaran turun lagi," ujar Mari.Menurut Mari, dari pengamatan yang ada, kenaikan biaya transportasi sebesar 20-40 persen akan berdampak pada naiknya harga barang 2-12 persen. Harga beras yang naik rata-rata Rp 200-300 per kilogram atau naik sekitar 8-10 persen, menurut Mari, disebabkan 100 persen oleh naiknya biaya transportasi. Sedangkan minyak goreng kemasan dan minyak curah relatif stabil.Sedangkan harga gula akan terus dipantau pemerintah jika telah melebihi Rp 5.500/kg dengan melakukan operasi pasar. Warga yang diberi penjelasan terlihat tidak puas dan tetap mengeluhkan bahwa keinginan mereka agar pemerintah tidak sembarangan mengeluarkan kebijakan. Sampai di luar pasar, Mari tetap diikuti warga yang masih teriak-teriak. "Ah, gimana nih, Bu," suara teriakan membuntuti.
(ir/)











































