detikNews
2019/06/08 07:06:13 WIB

Demokrat: Kami Merasa Tidak Berkoalisi Lagi dengan 02

Audrey Santoso - detikNews
Halaman 2 dari 2
Demokrat: Kami Merasa Tidak Berkoalisi Lagi dengan 02 Ilustrasi Kegiatan Partai Demokrat (Foto: Grandyos Zafna)

Dia menegaskan Demokrat tak akan menawarkan diri bergabung di koalisi Jokowi tanpa diajak secara resmi. PD, yang merupakan salah satu partai pengusung Prabowo di Pilpres 2019, tetap mengedepankan etika politik meski mengaku tak nyaman dengan koalisi yang dinaunginya.

"Kami tidak akan menawarkan diri. Partai Demokrat tidak akan menawarkan diri atau meminta-minta. Tetapi partai Demokrat, apabila diminta, akan siap karena kami juga kan tahu posisi kami, kemarin kami berkoalisi dengan 02. Tidak elok juga kami langsung menawarkan diri untuk bergabung ke 01, tidak demikian etika politik kami," tutur Ferdinand.

"Yang jelas saat ini kami merasa tidak lagi berkoalisi dengan 02, tetapi kami menjalin komunikasi dengan pihak-pihak yang kami anggap lebih perduli terhadap situasi bangsa, membangun bangsa secara bersama-sama," lanjutnya.

Jansen SitindaonFoto: Jansen Sitindaon (dok. Pribadi)


Ketua DPP PD, Jansen Sitindaon, mengatakan internal partainya tak nyaman dengan apa yang disebutnya 'serangan' buzzer pendukung Prabowo. Serangan itu disebutnya menyudutkan PD dan tokoh-tokoh PD terkait raihan suara Prabowo-Sandiaga di Pilpres 2019.

Padahal menurut Jansen, SBY sudah memberi saran-saran terkait kandidat cawapres hingga saat BPN Prabowo-Sandi akan menggelar kampanye akbar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). Namun, masukan dari SBY disebutnya tak pernah didengar oleh kubu Prabowo.



"Itu kan di medsos memang Demokrat 'diserang'. Jadi penyebab kekalahan Pak Prabowo disebut karena Partai Demokrat, Pak SBY, Mas AHY. Pertanyaannya sekarang, kandidat capresnya siapa? Kandidat capres kan Prabowo, berarti Prabowo yang kurang bekerja keras sehingga kalah atau mungkin salah cari Cawapres makanya kalah. (Serangan) itu kan netizen 02, pendukungnya di twitter, di medsos. Makanya baca, ikut main medsos juga. Itu kalimat buzzer-buzzer pendukung 02 di medsos," ungkap Jansen.

Jansen menuturkan PD sudah berupaya menjadi teman koalisi yang baik bagi Prabowo, dengan mengingatkan elektabilitas Sandi saat awal kontestasi pilpres belum teruji. PD pun menyarankan strategi politik identitas tak baik.

"Awal-awal dulu, Partai Demokrat menyampaikan sebagai teman koalisi yang baik, kalau kita ingin menang, berdasarkan data survei nama Sandiaga Uno kan belum masuk dalam radar survei. Kalau ingin menang, wakilnya jangan Sandi. Itu kami sampaikan di awal koalisi dulu. Politik identitas juga sudah disampaikan sejak awal pertemuan Pak SBY dan Pak Prabowo, bahwa di Pilpres ke depan mari jauhkan politik identitas secara ekstrem, karena akan mempengaruhi pemilu kita," jelas Jansen.

Hubungan Demokrat dengan Kubu 02 memang jadi sorotan. Salah satunya usai Politikus Demokrat Andi Arief mencuitkan partai hingga Ketumnya, SBY dijadikan kambing hitam atas kekalahan Prabowo-Sandiaga dan mendapat tanggapan pedas oleh tim pemenangan paslon nomor urut 02.


"Saya rasa saran PD kita adopsi. Bahkan surat Pak SBY soal kampanye inklusif itu kita ikuti. Ini Bang Andi Arief ini nggak pernah ikut kampanye, nggak pernah ikut rapat, tapi cari perhatian melulu. Bang Andi kasih saran apa ke kami? Datang rapat BPN juga nggak pernah. Saran PD selalu kami adopsi, kok. Beberapa kali Pak Prabowo juga minta saran ke Pak SBY. Jadi kita sudah laksanakan. Saya bingung Pak Andi maunya apa. Nggak pernah ikut rapat tapi sok tahu," kata juru bicara BPN Prabowo-Sandiaga, Andre Rosiade, kepada wartawan, Jumat (7/6).



Tonton juga video SBY: Demokrat Dirugikan Akibat Kurangnya Fair Play di Pemilu 2019:

[Gambas:Video 20detik]


(aud/haf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed