detikNews
Sabtu 08 Juni 2019, 06:21 WIB

Cerita Berkesan Ramadhan

Mengenal Hiroshima Islamic Cultural Center

Septia Hardy Sujiatanti - detikNews
Mengenal Hiroshima Islamic Cultural Center Hiroshima Islamic Cultural Center (Septia Hardy Sujiatanti/Istimewa)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadhan
Hiroshima - Berpuasa di Negeri Sakura Jepang tentu berbeda dengan di Indonesia. Ramadhan baru terasa betul ketika kita ada di pusat kebudayaan Islam seperti di Hiroshima.

Sebagai seorang muslim, berpuasa di negeri orang dengan jumlah muslim yang tergolong minoritas menjadi satu tantangan sekaligus pengalaman yang mengesankan. Bulan suci Ramadhan di Jepang tahun ini bertepatan dengan musim semi, saat cuaca dingin sudah berlalu dan cahaya matahari tidak terlalu menyengat seperti ketika memasuki musim panas. Meski demikian, selama musim semi, rentang waktu siang lebih lama daripada malam sehingga waktu puasa juga menjadi lebih lama.

Pukul 03.15 pagi sudah memasuki waktu shubuh dan matahari terbenam ketika jarum jam menunjukkan pukul 07.15 malam. Maka bisa dibayangkan lama waktu berpuasa di sini yang mencapai 16 jam. Rentang waktu puasa yang lebih lama dan kebiasaan yang pasti sangat berbeda jika dibandingkan dengan berpuasa di Tanah Air menjadi salah satu perhatian saya dan keluarga sejak awal kedatangan kami ke Jepang bulan Januari lalu, karena Ramadhan kali ini menjadi puasa pertama kami di Negeri Sakura.

Saat ini saya dan keluarga tinggal di Kota Higashihiroshima yang termasuk dalam wilayah Prefektur Hiroshima, untuk menjalani tugas belajar di Graduate School of Engineering, Hiroshima University. Menjalankan puasa di Jepang tidak terasa seperti bulan puasa. Hari-hari di bulan Ramadhan terasa seperti hari biasa. Tidak ada keramaian berburu takjil di sore hari atau tayangan religi hingga komedi yang menemani santap sahur. Begitu pula tidak ada tayangan kultum menjelang waktu berbuka bahkan suara adzan magrib yang selalu ditunggu-tunggu.

Mengenal Hiroshima Islamic Cultural CenterMasjid As Salam Hiroshima (Septia Hardy Sujiatanti/Istimewa)
Namun demikian, ada satu hal yang bisa menjadi obat rindu akan kebiasaan bulan Ramadhan bagi umat muslim Indonesia. Saat menjalani puasa di perantauan, salah satu hal yang dirindukan adalah buka puasa bersama yang kerap kali kita lakukan bersama keluarga atau sahabat, atau bahkan berbuka puasa di masjid sembari ngabuburit. Berbuka puasa di masjid ini ternyata tidak hanya identik di Indonesia, tapi juga sangat membudaya di kalangan umat muslim di Hiroshima.

Berbuka puasa bersama ini dilakukan di Masjid As Salam Hiroshima atau lebih dikenal dengan nama Hiroshima Islamic Cultural Center (HICC) yang merupakan salah satu tempat ibadah yang cukup terkenal di kalangan umat muslim di Hiroshima. Bentuknya tidak seperti masjid pada, melainkan seperti sebuah gedung pada umumnya.

Masyarakat muslim yang tinggal di Hiroshima kebanyakan dari Indonesia, Malaysia, Arab, Afganistan, dan Bangladesh. Mayoritas dari mereka adalah mahasiswa yang sedang menempuh studi di Hiroshima University, baik yang masih single maupun sudah berkeluarga. Beberapa di antaranya juga ada yang bekerja bahkan kemudian menikah dengan warga Jepang dan hidup berkeluarga di Hiroshima. Menjelang waktu berbuka, banyak masyarakat muslim yang datang ke HICC untuk ikut buka puasa bersama sampai salat tarawih berjamaah.

Selama bulan Ramadhan, setiap negara dengan komunitas muslim masing-masing berbagi jadwal bergantian menyediakan menu buka puasa atau yang lazim disebut iftar. Masing-masing negara bisa mengusulkan lebih dari satu kali selama bulan Ramadhan. Bagi komunitas muslim Indonesia yang populasinya cukup banyak di Hiroshima, Ramadhan tahun ini berkesempatan menyediakan iftar paling banyak di antara negara yang lain.

Mengenal Hiroshima Islamic Cultural CenterMenyiapkan iftar (Septia Hardy Sujiatanti/Istimewa)
Kesempatan menyediakan iftar bisa menjadi ajang memperkenalkan masakan Tanah Air kepada umat muslim dari negara lain. Begitu juga sebaliknya, ketika berbuka puasa di HICC kita bisa mencoba menu masakan dari berbagai negara. Seperti misalnya saat kami mendapatkan jadwal menyediakan iftar, nasi gule daging sapi dan tempe mendoan menjadi salah satu pilihan menu di antara menu di hari yang lain. Tidak ketinggalan kerupuk, acar, dan sambal semakin melengkapi hidangan yang khas dan kental dengan aroma Nusantara. Ditambah es nata de coco dengan campuran biji selasih dan serutan timun segar sebagai sajian penutup.

Jika di Indonesia kita bisa berbuka puasa di masjid setiap hari, maka tidak demikian halnya di HICC. Buka puasa bersama di HICC hanya ada pada hari-hari tertentu, tergantung kesediaan masing-masing negara yang akan menyiapkan hidangan iftar. Namun demikian, salat tarawih berjamaah tetap ada setiap malam, bahkan HICC semakin ramai ketika masuk sepuluh malam terakhir. Banyak umat muslim di Hiroshima yang bermalam di masjid untuk melaksanakan itikaf dan berburu malam Lailatul Qadar. Menikmati bulan Ramadhan di HICC seolah mengobati kerinduan berpuasa di tanah air.

*) Septia Hardy Sujiatanti adalah mahasiswi Hiroshima University, Jepang dan anggota PPI Hiroshima (PPIH)
*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama detikcom dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia)
(fay/fay)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadhan
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed